Kasus Tridevi dan Riyan, Bukti Lemahnya Sistim Pelayanan Kesehatan di NTB

Mataram (Suara NTB) – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Front Mahasiswa Nasional (FMN) melakukan aksi penggalangan dana untuk meringankan beban Tridevi. Melalui aksinya tersebut, para aktivis FMN juga ingin memberikan pesan bahwa ada masalah besar dalam sistim pelayanan kesehatan kita saat ini yang perlu dibenahi dengan lebih serius.

Hanafi, salah seorang anggota FMN, mengatakan kasus yang dialami Tridevi merupakan bukti lemahnya sistem pelayanan publik, khususnya dalam bidang kesehatan.

Iklan

“Mungkin di luar sana masih banyak bayi lain yang juga bernasib sama seperti Tridevi,” cetusnya.

Pernyataan Hanafi tersebut cukup beralasan. Di Lombok Timur (Lotim), kasus serupa tapi tak sama dengan Tridevi juga dialami Riyan Saputra. Riyan adalah bocah enam tahun yang menderita penyakit misterius. Kakinya lumpuh dan mengecil. Kondisinya ini, nyaris membuat ia kehilangan masa kecil, sekaligus harapan akan masa depannya. Meski berulangkali dibawa berobat, Riyan tak juga bisa disembuhkan.

Riyan adalah putra dari pasangan Fawani dan Huswatun Hasanah. Warga Desa Padakgoar Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur.

Kepada Suara NTB, beberapa waktu lalu, Fawani alias Amaq Rian ini bertutur, sudah lama sekali ia mencoba melewati proses pengobatan. Puluhan juta sudah ia keluarkan meski dengan berhutang, demi melihat anaknya bisa berlari seperti anak-anak kecil lainnya. Namun, upayanya itu belum juga membuahkan hasil.

Anak semata wayangnya masih tertidur lemas. Beberapa kali mendapatkan pelayanan medis mulai dari tingkat puskesmas, namun belum ada jawaban atas solusi penanganan kesehatannya. Sakit yang diderita sang anak pun belum ia ketahui. Menurutnya, tidak ada penjelasan yang memadai dari dokter di puskesmas soal penyakit sang anak.

Saat ini, ia hanya bisa berharap dari pengobatan ala Sasak. Melalui pengobatan dukun. Melalui medis ia tampak nyaris putus asa karena tidak kunjung ada perubahan. Bahkan pernah dibawa ke salah satu dokter spesialis yang ada di Selong, pun tidak ditemukan ada titik terang yang bisa memberikan kesembuhan kepada sang anak.

  Lapas Koordinasi dengan KKP Soal Penyelundup Bibit Lobster

“Kalau ke Puskesmas itu sudah berulang kali,” sebutnya. Dia menuturkan, sang anak ini sebenarnya sakit biasa ketiga usianya baru menginjak tiga bulan. Tidak disangka dan diluar pengetahuannya, Fawani yang bekerja sehari-hari sebagai buruh tani ini heran karena anaknya ini semakin bertambah usianya bukannya makin ceria, tapi makin menambah kesedihan keluarga.

Sebagai keluarga miskin dan kurang mampu, sang anak memang sudah memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Akan tetapi, kartu JKN ini belum mampu memberikan jawaban atas pertanyaan menyangkut bagaimana cara pengobatan anaknya agar bisa sembuh?

Kartu ini pun nyaris tidak pernah digunakan. Sebab, setiap kali datang ke fasilitas kesehatan, tenaga medis hanya memberikan perawatan sederhana. Saat dilihat petugas sembuh, langsung disuruh pulang begitu saja. Tidak pernah ada arahan atau bagaimana kira-kira caranya agar sang anak bisa sembuh. (szr/aan/rus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here