Kasus TKW Rabitah, Polda NTB Tetapkan Dua Tersangka

Mataram (Suara NTB) – Kasus Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kabupaten Lombok Utara (KLU) Sri Rabitah, penyidik Polda NTB menetapkan dua tersangka. Penyidik tinggal memanggil para tersangka dan melimpahkan berkas ke  Jaksa peneliti.

 

Iklan

Kasubdit IV Ditreskrimum Polda NTB AKBP Ni Made Pujawati  membenarkan penetapan tersangka itu. Mengusut dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) pada kasus ini cukup rumit, hingga empat kali dilakukan gelar perkara.

“Empat kali gelar perkara kami lakukan untuk meyakinkan tindak pidana TPPO. Akhirnya kami berkesimpulan dua tersangka, inisial U dan I,” sebut Ni Made Pujawati  kepada Suara NTB di ruangannya, Senin, 13 November 2017.

Peran aktif U dan I dalam kasus ini, pada proses pemberangkatan Rabitah ke Doha, Qatar yang terindikasi bermasalah pada dokumen. Tidak saja Rabitah, tapi penyidikan berkembang ke Yuliani, adik Rabitah.

Dari hasil pendalaman, ada tiga indikator TPPO yang ditemukan, yakni  proses pemberangkatan, modus TPPO dan dugaan eksploitasi. Soal dugaan adanya  pemalsuan dokumen, tak disebutkan Kasubdit IV, karena masih ada proses  pembuktian dan penyitaan alat bukti sehingga harus dirahasiakan.

Namun terpenting baginya, tiga unsur human trafficking itu terpenuhi sebagai bagian dari penyelidikan dan penyidikan kejahatan trans nasional itu.

“Bahkan sudah kami terbitkan SPDP (Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan). Tahapan berikutnya kami akan panggil tersangka, kemudian persiapkan berkasnya untuk dilimpahkan tahap satu,” kata Ni Made Pujawati didampingi Panit Trafficking Subdit  IV Ditreskrimum Iptu Faisal Afrihadi.

Atas perbuatan kedua tersangka, penyidik menjerat mereka dengan Pasal 10, pasal 11 Jo pasal 6 Undang Undang 21 tahun 2007  tentang TPPO, dengan ancaman  minimal tiga tahun dan maksimal 15 tahun penjara.

Usut Adik Rabitah

Mantan Wakapolres Mataram ini menambahkan, penyidikan kasus ini berliku liku. Itu sebabnya prosesnya membutuhkan waktu beberapa bulan, dari peneluran jaringan perekrut di daerah hingga ke Jakarta.

Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) yang memberangkatkan Rabitah, Falah Rima Hudaity Bersaudara di Jakarta pun sudah diperiksa. “Total 20 saksi diperiksa,” sebutnya.

Bagaimana dengan dugaan ginjal yang hilang atau ditukar sebagaimana diributkan diawal? Ditegaskan, pihaknya tidak terpaku pada informasi awal terkait masalah pada ginjal Rabitah karena tidak terbukti, sehingga menggeser arah penyidikan ke persoalan dokumen.

Rabitah rupanya pintu masuk untuk mengusut korban lainnya, yakni Yuliani, adik Rabitah. Ketika diberangkatkan, usianya masih 13 tahun, namun umurnya dipalsukan sehingga memenuhi syarat diberangkatkan ke Qatar tahun 2014 lalu.

Dengan ditemukannya modus TPPO pada Yuliani, tidak berarti untuk kasus Rabitah ditutup. “Tapi dengan kasus Rabitah justru menguatkan hasil penyidikan kami. Awalnya kan urutannya yang diusut Rabitah duluan baru Yuliani. Sekarang dibalik, Yuliani  (ke) Rabitah. Karena pembuktian Yuliani lebih akurat,” tegasnya.

Bukti awal dari keterangan saksi sudah dipegang, selain identitas yang dipalsukan, juga medical record yang melibatkan perusahaan. Soal kemungkinan kasus ini akan berkembang sampai dengan pelibatan pihak yang memberangkatkan hingga mempekerjakan, Kasubdit IV meyakinkan penyidikan akan berlanjut.

Apalagi menurutnya, kasus ini masuk kategori transnational  crime sehingga yang diusut, mulai dari perekrutan, pemberangkatan hingga eksploitasi saat penempatan.

“Soal prosesnya sampai dengan ke perushaan, itu dalam penyidikan. Kita buktikan lagi keakuratannya. Sementara kita proses ini dulu, tahapan awal dari proses perdagangan orang (TPPO) itu,” tandasnya.

Investigasi

Dugaan pemalsuan dokumen ini sejak awal menjadi kecurigaan tim advokasi #saverabitah. Dari penelusuran dokumen oleh tim yang dikomandoi Muhammad Shaleh,  Sri Rabitah dan Adiknya Yuliani direkrut oleh calo berinisial U, asal Dusun Batu Keruk Akar-akar Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara.

Fakta ditemukannya, Sri Rabitah direkrut saat masih berusia 13 tahun, kemudian ditawari bekerja di Negara Oman sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT).

“Menurut U ini, pekerjaan di sana aman karena akan diberangkatkan resmi lewat PPTKIS Falah Rima Hudaity Bersaudara. Dan U berjanji akan mengurus semua dokumennya untuk persyaratan menuju ke luar negeri,” kata Shaleh kepada Suara NTB belum lama ini.

Dia menduga, dalam Pelaksanaan penempatan Sri Rabitah beserta adiknya – Yuliani, U telah melakukan serangkaian pemalsuan dokumen, seperti usia menjadi lebih tua.

Untuk Sri Rabitah, dari tahun lahir 1992 menjadi tahun 1985, sementara Juliani dari tahun 2005 menjadi tahun 1988. Alamat yang sebenarnya di Desa Batu Keruk Akar-Akar Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara menjadi Dusun Kebun Indah, Desa Sesela Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat.

“KTP ini juga diperkuat sebelumnya lewat Kartu Keluarga palsu yang di dalamnya hanya tertera nama empat orang, yaitu Nama Bapaknya, ibunya, Sri Rabitah dan Juliani. Sementara empat saudara lainnya tidak dimasukkan di dalam KK yang dipalsukan. Dari data ini selanjutnya keluar Akte Lahir yang disesuaikan dengan KTP dan KK palsu. Untuk pembuatan beberapa dokumen yang dipalsukan ini, U  bekerja sama dengan HD, yang menurut Juliani adalah staf dari PPTKIS Falah Rima Hudaity Bersaudara,” beber Shaleh berdasarkan hasil investigasinya. (ars)