Kasus Stunting di Lotim Capai 26,1 Persen

H. Pathurrahman. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Kasus stunting di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) masih bertengger di angka 26,1 persen. Jumlah tersebut berdasarkan jumlah Bayi Lima Tahun (Balita) di Kabupaten Lotim yang tertuang dalam data Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat Elektronik (e-PPGM).

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Lotim, Dr. H. Pathurrahman,M.Kes, Rabu, 3 Maret 2021 mengatakan, penanganan stunting di daerah ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah, sehingga dibutuhkan konvergensi penanganan stunting oleh stakeholder pada lokus tertentu. Artinya penanganan stunting jika ingin dipercepat, semua sektor mulai dari Dinas Kesehatan, DP3AKB, Ketahanan Pangan, Bappeda, Dikbud, NGO maupun pihak-pihak terkait lainnya harus terlibat.

Iklan

“Menangani stunting itu tidak bisa sendirian, karena stunting disebabkan oleh multi variabel atau multi penyebab,” sebutnya.

Beberapa faktor penyebab itupun dibagi dalam tiga tingkatan, tingkatan pertama yaitu penyebab langsung terdiri dari kurangnya asupan gizi dan terjadinya penyakit. Tingkatan kedua yaitu penyebab antara, terdiri dari ketersediaan pangan, pola asuh, pelayanan kesehatan. Sedangkan tingkatan ketiga yaitu penyebab mendasar berupa faktor ekonomi dan kebijakan.

Melihat struktur penyebab ini, kata Pathurrahman, maka penanganan harus konvergensi yaitu bersama-sama menangani stunting dikarenakan tak kalah penting peran daripada semua level pemerintah, baik tingkat desa, kecamatan dan kabupaten harus memiliki visi yang sama.

Adapun kasus sampai saat ini berdasarkan, e-PPGM sekitar 26,1 persen dari jumlah balita yang ada di Kabupaten Lotim mengalami stunting. Persoalan inipun menjadi perhatian serius Pemda Lotim untuk mengatasinya di tahun 2021 ini. Intervensi stunting pada dasarnya terjadinya pada seribu hari pertama kehidupan (HPK) atau sejak janin dalam kandungan sampai berusia dua tahun. Di sanalah masa perkembangan janin baik fisik maupun otaknya.

 “Setelah berusia dua tahun bukan berarti tidak bisa, tetapi agak berat. Stunting ini salah satu sasaran kita untuk diatasi tahun ini,”ungkapnya.

Untuk ciri-ciri stunting ini, terang Pathurrahman, yaitu panjang anak tidak sesuai umur yang diawali dengan turunnya berat badan serta disebabkan kekurangan gizi, sehingga badannya tidak bisa berkembang. Sebaliknya apabila ukuran badan anak pendek disebabkan faktor genetik bukan masuk katagori stunting. (yon)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional