Kasus Sewa Lahan Tower Desa Sesela, Jaksa Bidik Tersangka Lain

Wayan Suryawan. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Mantan Kades Sesela, Asmuni menjalani pemeriksaan sebagai tersangka dugaan korupsi sewa lahan tower telekomunikasi pekan lalu. Aliran dana sewa yang diduga diselewengkan akan ditelusuri. Indikasi tersangka lain sedang diselidiki. “Pemeriksaan tersangka sudah selesai,” ungkap Kasi Pidsus Kejari Mataram Wayan Suryawan dikonfirmasi akhir pekan lalu menjawab soal perkembangan kasus tersebut.

Dalam pemeriksaan tersebut, tersangka Asmuni turut menyerahkan tambahan uang kerugian negara. Awalnya disetor Rp40 juta. Sehingga totalnya menjadi Rp53,8 juta. “Sudah dikembalikan semua,” imbuhnya. Wayan mengatakan, pengembalian tersebut masih statusnya titipan pengganti kerugian negara. Status uang itu nanti apakah disita untuk pengembalian kerugian negara atau tidak, berdasarkan putusan pengadilan. “Ini masih penyitaan untuk barang bukti. Kalau yang Rp300 juta sudah langsung masuk ke kas desa,” bebernya.

Iklan

Uang sewa itu diduga dipakai tidak sesuai dengan mekanisme. Keterlibatan orang lain yang turut membantu tersangka Asmuni sedang didalami. “Untuk saat ini (tersangka) masih mantan Kades. Kalau ada yang lain, nanti kita segera nyatakan sikap,” tutup Wayan. Dalam kasus ini, tersangka Asmuni diduga mengelola uang sewa lahan bukan untuk kepentingan desa. Uang sewa lahan menara tidak dimasukkan ke kas desa, tidak dibahas dengan BPD, dan tidak tercantum dalam APBDes sebagai pendapatan desa. Uang sewa tersebut diduga disimpan di ruang Sekdes. Sebagian lainnya dititip di perangkat pemerintahan setingkat RT.

Berdasarkan audit Inpektorat Lombok Barat, Desa Sesela menderita kerugian kerugian Rp353,88 juta dari nilai sewa dan pajak yang tidak disetor. Lahan aset Desa Sesela yang disewakan yakni seluas 8×8 meter atau 64 m2. Lahan disewa untuk pendirian tower telekomunikasi pada tahun 2018. Dalam perjanjiannya, lahan disewa selama 10 tahun. (why)