Kasus Positif Meningkat, Pemprov Kembali Atur Strategi Penanganan Covid-19

H. L. Gita Ariadi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19 di NTB cenderung mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Selain itu, kasus kematian juga terus bertambah.

Dengan adanya kecenderungan peningkatan kasus baru terkonfirmasi positif dan angka kematian, membuat Pemprov NTB kembali mengatur strategi penanganan Covid-19.

Iklan

“(Peningkatan) itu kita lihat masalahnya. Kita terus coba lakukan perubahan strategi. Selaku Ketua Harian Gugus Tugas kita cemas dan prihatin, kata Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M. Si dikonfirmasi usai rapat evaluasi mingguan penanganan Covid-19 di Kantor Gubernur, Senin, 21 September 2020.

Gita mengatakan, Gugus Tugas terus mencermati perkembangan penambahan kasus sesuai dengan data yang dirilis setiap hari. Ia mengatakan, dua hari sebelumnya, kasus baru terkonfirmasi positif melonjak sebanyak 53 orang. Kemudian kembali turun menjadi 25 kasus baru.

Sekda NTB ini mengatakan, evaluasi perkembangan dan penanganan kasus Covid-19 dilakukan evaluasi seminggu sekali. Angka-angka bergerak, apa penyebabnya. Kita kenali dengan sebaik-baiknya. Sehingga itu yang harus kita perbaiki, tingkatkan sosialisasinya kepada masyarakat, terangnya.

Bertambahnya kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19 dan meningkatnya jumlah pasien yang meninggal, kata Sekda, penyebabnya tak bisa berdiri sendiri. Sekarang, dengan adanya pemberitaan Menteri Agama, Fachrul Razi yang terkonfirmasi positif Covid-19 membuat Pemda juga sedang berhitung.

Karena Menteri Agama, pada pekan lalu berkunjung ke NTB. Menghadiri sejumlah kegiatan selama dua hari di Pulau Lombok. Para pihak yang (pernah) kontak kita cari. Semua ditracing, katanya.

Sekda menambahkan, Pemprov akan mengoptimalkan penanganan kesehatan. Sebelumnya, penanganan kesehatan dan ekonomi berjalan bersamaan.

Tetapi ketika ada kontraksi (peningkatan kasus) begini, iya kita evaluasi lagi. Apakah ada yang terlalu longgar, kita terus evaluasi. Supaya penanganan kesehatan dan ekonomi, kedua-duanya bisa berjalan, imbuhnya.

Jika sebelumnya pelacakan kontak terhadap orang-orang yang pernah interaksi erat agak longgar. Maka, tracing akan dimasifkan lagi. Begitu juga dengan masyarakat yang enggan memeriksakan dirinya ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan.

Jangan sampai setelah penyakitnya parah, baru datang ke Puskesmas atau rumah. Sebab, jika datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi penyakit yang kronis, maka risiko kematian cukup besar.

Ternyata dengan peristiwa itu (terlambat datang ke fasilitas kesehatan), ada dampak negatif, tidak kita harapkan terjadinya proses kematian yang lebih cepat, katanya.

Berdasarkan data Gugus Tugas, jumlah pasien positif Covid-19 di Provinsi NTB sampai sebanyak 3.123 orang. Dengan perincian 2.444 orang sudah sembuh, 185 meninggal dunia, serta 494 orang masih positif.

Penambahan kasus baru positif Covid-19 dan korban meninggal masih terus terjadi. Bahkan angka kematian karena Covid-19 di Provinsi NTB sebesar 5,9 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan standar WHO sebesar 3 persen. Angka kematian tersebut didominasi oleh kelompok rentan, yakni para lansia dan balita serta pasien dengan komorbid atau penyakit penyerta lainnya. (nas)