Kasus PMI Jamilah Disiksa Majikan, Polda NTB Turun Tangan Usut Dugaan TPPO

Ni Made Pujewati. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Polda NTB bakal mengusut kasus Pekerja Migran Indonesia (PMI) Jamilah alias Inaq Wati (40). Indikasi pidana tindak pidana perdagangan orang (TPPO) ditelusuri. Jamilah merana setelah pulang bekerja dari Abu Dhabi. Jamilah diduga diberangkatkan tekong tanpa prosedur. “Kita sedang identifikasi kasus ini. Kalau diduga berangkat ilegal, bisa kita proses hukum,” tegas Kasubdit IV Remaja Anak Wanita Ditreskrimum Polda NTB AKBP Ni Made Pujewati, Senin, 7 September 2020.

Namun sebaliknya, apabila Jamilah diberangkatkan melaui jalur legal, maka penangannya bakal lebih kompleks. Sebab berurusan dengan kedaulatan hukum negara lain. “Misalnya legal entry, illegal stay. Itu sudah wilayah hukum negara tujuan,” terangnya. Kasus Jamilah sudah menjadi perhatiannya. Pihaknya sudah menyiapkan tim bilamana pengumpulan informasi awal sudah terhimpun. Sampai kini Jamilah masih dalam perawatan. “Sebaiknya tunggu yang bersangkutan sembuh agar mudah memberikan keterangan,” ucapnya.

Namun, dia mendorong pihak keluarga atau pihak lain yang diberi kuasa untuk menyampaikan laporan pengaduan sebagai dasar penyelidikan. “Kita siap menindaklanjuti laporannya,” kata Pujewati. Terpisah, Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Lombok Timur Usman Sakti mengatakan, informasi awal yang diterimanya, Jamilah berangkat secara legal. “Kalau legal, bagaimana pengawasannya, dari pemerintah kan seharusnya memantau,” ucapnya via telepon.

Usman mengaku masih memerlukan informasi tambahan terkait kasus Jamilah. Pihaknya pun siap mendampingi Jamilah secara hukum. “Nanti kalau sudah lengkap kita siap kawal,” imbuhnya. Adik ipar Jamilah, Miq Jeki juga mempertimbangkan menempuh jalur hukum. Namun saat ini masih mencari cara untuk menyelesaikan perawatan kesehatan. “Kita fokus biar dia sembuh dulu,” ujarnya.

Jamilah kini masih dirawat di Puskesmas Jerowaru. Warga Dusun Poton Bako, Desa Jerowaru ini mengemukakan peristiwa naas yang dialaminya. Jamilah bekerja tanpa gaji selama tiga bulan. Wanita yang berangkat ke Abu Dhabi pada Juni lalu ini pun disiksa. Mulai dari kepala yang dibenturkan ke tembok, kemudian disiram air panas, dan parahnya lagi kakinya mengalami patah tulang karena dipukul benda tumpul. Telinga dan wajahnya kini masih lebam.

Jamilah berangkat melalui sebuah perusahaan P2MI yang bermarkas di Jakarta. Jamilah diberangkatkan ke Jakarta pada Juni. Selama sebulan Jamilah ditampung. Jamilah lalu diterbangkan ke Abu Dhabi untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga. (why/yon)