Kasus Pengeboran Air Tanah Ilegal, Hakim Tolak Eksepsi Direktur PT BAL

Mataram (Suara NTB) – Sidang pengeboran ilegal air tanah Gili Trawangan dengan terdakwa John Matheson dilanjutkan, Rabu, 23 Mei 2018 dengan agenda putusan sela. Hakim Pengadilan Negeri Mataram menolak eksepsi Direktur PT Berkat Air Laut (BAL) tersebut.

Ketua majelis hakim, Didiek Jatmiko memutuskan untuk menolak keberatan terdakwa atas dakwaan yang diajukan jaksa penuntut umum. “Menolak eksepsi terdakwa untuk seluruhnya,” ujarnya.

Iklan

Didiek menjelaskan, keberatan terdakwa sudah menyentuh pokok perkara. Yakni berkaitan dengan proses pengajuan izin-izin usaha penyulingan air laut menjadi air tawar di Pulau Gili Trawangan, Pemenang, Lombok Utara.

Terdakwa dalam eksepsinya juga nenguraikan surat dakwaan jaksa yang tidak lengkap dan cermat meliputi data diri tersangka serta waktu dan tempat kejadian. Ketidakcermatan itu menurut terdakwa membuat surat dakwaan batal demi hukum. Alasan eksepsi itu juga ditolak hakim.

“Surat dakwaan jaksa penuntut umum sudah memenuhi berdasarkan pasal 143 KUHAP,” sebutnya.

Atas ditolaknya eksepsi terdakwa, maka hakim melanjutkan persidangan dengan agenda pemeriksaan. Sidang akan dilanjutkan kembali Rabu, 30 Mei 2018  pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.

Menanggapi hal itu, terdakwa melalui penasihat hukumnya, Irfan Suryadiata mengaku menghormati putusan sela hakim. “Selanjutnya kita akan buktikan nanti di persidangan,” kata Irfan ditemui usai persidangan.

Direktur utama PT Berkat Air Laut, John Matheson menjadi terdakwa atas tuduhan pelanggaran Pasal 15 Ayat (1) huruf b juncto Pasal 11 Ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan Jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Matheson membuka usaha penjernihan air asin di Gili Trawangan, Pemenang, Lombok Utara sejak tahun 2011.

Terdakwa bersama dua kawannya berangkat dengan modal Rp 3 miliar, melalui skema penanaman modal asing (PMA) PT BAL yang bermarkas di Denpasar, Bali.

PT BAL kemudian melakukan pengeboran tanah dan pengambilan air tanah di Gili Trawangan tidak memiliki izin pengeboran (SIP) dan tidak memiliki Izin Pengambilan Air Tanah (SIPA).

Meski demikian, perusahaan serupa PDAM tandingan ini punya 969 pelanggan pada tahun 2017 di Gili Trawangan, dan 196 pelanggan di Gili Meno.

PT BAL mematok biaya awal pemasangan sebesar Rp 800 ribu yang meningkat sampai Rp 2 juta. Pelanggannya yang diklasifikasi kategori bisnis, rumah tangga, dan sosial dikenai biaya berbeda yang dihitung per meter kubik, yakni antara Rp 24.500 sampai Rp 36.000.

Pendapatan PT BAL di tahun 2016 dari hasil menjual air mencapai Rp 20 miliar dengan nilai aset investasi Rp 34 miliar. (why)