Kasus Pembunuhan Warga di Lahan Jagung Diduga Gara-gara Pembagian Air Irigasi

Aiptu Hujaifah. (Suara NTB/ist)

Dompu (Suara NTB) – Kasus kematian H. Muhammad Yakub (67) warga Dusun Wera Desa Dorebara Dompu yang ditemukan mayatnya di pondok lahan jagungnya di So Klonco Dorebara pada 15 Juli 2020 lalu akhirnya terungkap. H M Yakub diduga dibunuh Shd (44) dan Ars (50) warga Desa Mbawi karena menganggap korban selalu menguntungkan diri sendiri dalam pembagian air irigasi ke sawahnya.

Paur Humas Polres Dompu, Aiptu Hujaifah dalam keterangan pers yang diterima Suara NTB, Selasa pagi, 21 Juli 2020, mengungkapkan, kematian H. Muhammad Yakub yang jasadnya ditemukan di pondok lahan jagungnya pada 15 Juli lalu diduga dibunuh Shd dan Ars warga Mbawi yang juga sebagai petani di sekitar lahan milik korban. Motif pembunuhan ini diduga karena cemburu soal pembagian air irigasi. Menurut Shd, air irigasi tersebut hanya dinikmati korban yang selalui mengairi sawahnya.

Iklan

“Shd beranggapan bahwa selama ini korban selalu menguntungkan dirinya sendiri dengan mengaliri air di tanah sawah miliknya dan tidak pernah membagikan kepada orang lain, sehingga timbul niat Shd untuk melakukan penganiayaan terhadap korban,” kata Hujaifah.

Keterlibatan Ars dalam kasus pembunuhan ini karena diajak Shd yang merasa jengkel dan marah pada korban setelah cekcok terjadi. Ars diajak melakukan penganiayaan terhadap korban. Korban ditemui Shd dan Ars di lahan jagungnya. Ketika berhadap dengan korban, Ars langsung memeluk dan mengigit tangan korban. Shd kemudian mencekik leher korban hingga korban tidak bergerak dan meninggal dunia.

Setelah dipastikan meninggal dan untuk mengelabui, kedua terduga pelaku membawa korban ke pondok milik korban dengan maksud seolah korban korban dalam posisi tertidur dan tidak mengalami tindakan kekerasan. “Setelah menyimpan mayat korban, Shd dan Ars meninggalkan pondok tersebut dan kembali ke rumah masing – masing,” jelas Hujaifah.

Namun kasus pembunuhan ini mulai diungkap aparat kepolisian, kata Hujaifah, berawal dari kecurigaan keluarga bahwa kematian pensiunan ASN ini tidak wajar dan dilaporkan ke kepolisian setelah mayat korban ditemukan di pondok lahan jagungnya, Rabu, 15 Juli 2020. Tim Reskrim Polres Dompu langsung melakukan olah TKP dan ditemukan adanya beberapa luka di sekitar bagian leher dan tangan kanan korban. Temuan ini semakin meyakinkan keluarga korban dan menyetujui dilakukan otopsi terhadap mayat H M Yakub.

Proses otopsi dilakukan tim dokter forensik pada Jumat, 17 Juli lalu semakin menguatkan dugaan kematian H M Yakub karena dibunuh. Hasil penyelidikan dan pengembangan penyidikan didapati informasi bahwa sesaat sebelum mayat ditemukan, korban sempat cekcok mulut dengan Shd terkait pembagian air irigasi yang mengaliri tanah sawah milik korban. Shd beranggapan bahwa air irigasi tersebut banyak mengalir ke sawah korban dan merugikan pelaku yang juga ingin mendapatkan giliran air irigasi.

Kecemburuan ini menimbulkan niat Shd untuk menganiaya korban. Keterangan para saksi yang mengarah kepada Shd dan Ars dibenarkan para pelaku.
Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Shd dan Ars kini ditahan di Mapolres Dompu. Keduanya disangkakan dengan pasal 338 Jo pasal 351 ayat (3) Jo pasal 55 ayat (1) ke – 1 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. (ula)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here