Kasus Pembunuhan Ulum, Telusuri Motif dari Riwayat Percakapan

Tersangka dugaan pembunuhan TKP Karang Pule, Sekarbela, Mataram digiring penyidik Satreskrim Polresta Mataram.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Motif dugaan pembunuhan warga Pandai Besi, Sekarbela, Mataram Hayatul Ulum (22) sampai kini belum terungkap. Indikasi perselihan pun belum ada petunjuknya. Cara yang ditempuh yakni dengan menelusuri riwayat percakapan. Baik dari ponsel korban, tersangka, maupun saksi-saksi. “Kemarin itu sudah dicek. Isinya nanti akan kita gelarkan apa hasilnya,” ungkap Kasatreskrim Polresta Mataram Kompol Kadek Adi Budi Astawa ditemui Jumat, 5 Maret 2021.

Korban ditusuk pisau di dadanya pada Minggu 29 November 2020 dini hari sekira pukul 00.30 Wita. Kejadian di Jalan Sultan Kaharuddin, Karang Pule, Sekarbela, Mataram itu membuat Ulum seorang pengrajin emas meninggal dunia. Kadek Adi mengatakan, jenazah korban pada Sabtu, 6 Maret 2021 ini akan digali kembali untuk keperluan autopsi.

Iklan

“Autopsi ini mengenai penyebab kematiannya. Kita sedang memperkuat lagi bukti-bukti. Ahli forensik yang bisa menjelaskan, untuk bisa menjelaskan, korban harus diautopsi dulu,” ujarnya. Dalam kasus ini dua orang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Yakni, IL alias Hil (35) warga Jempong Baru, Sekarbela, Mataram dan BM alias BR alias Totok (34), warga Karang Pule, Sekarbela, Mataram.

IL diduga sebagai eksekutor yang menusukkan pisau ke korban. Sementara, BR membantu dengan menyediakan tumpangan sebagai joki sepeda motor. BR pada pertengahan Februari lalu ditangkap atas dugaan pengedar narkoba. “Yang joki ini ditahan dalam perkara yang berbeda. Kasus narkoba,” sebutnya.

 

Bukti Sampel DNA Sudah Kuat

Kadek Adi menerangkan, tersangka sampai saat ini memang belum mengakui perbuatannya sehingga motif pembunuhan juga belum terungkap. Namun, tim penyidik sudah meyakini bukti-bukti dan keterangan saksi sudah cukup untuk menjerat IL dan BR sebagai tersangka. “Bukti yang menunjuk kepada pelaku sudah cukup dengan barang bukti DNA itu sebenarnya. DNA itu alat bukti utama,” jelasnya.

Alasannya, sambung Kadek Adi, korban diduga dibunuh dengan pisau. Yang mana pisau tersebut milik tersangka IL. Sampel darah pada pisau dengan darah korban dicocokkan melalui pengujian DNA di Puslabfor Polri. “Pada alat bukti sarana yang digunakan untuk menusuk itu ada dugaan sisa darah dari korban. Pisau yang dibawa pelaku ada bekas darah korban di sana,” sebutnya.

 

Alibi Tersangka Lemah

Tersangka IL boleh saja mengelak dengan tidak mengakui sangkaan kepadanya. Tetapi, penyidik, kata Kadek Adi, menggunakan serangkaian teknik penyidikan untuk mengungkap pelaku pembunuhannya. Dari alibi tersangka lemah. “Malam itu dari penyampaiannya dia, dia ada di rumah. Tapi itu tidak sinkron dengan keterangan istrinya. Kata istrinya dia keluar rumah pada saat kejadian,” sebut Kadek Adi.

Sementara, alibi BR masih didalami lagi dari pemeriksaan selanjutnya. “Pelaku belum ngaku, kita tidak tahu motifnya apa. Tapi korban ini diduga memang sudah ditarget begitu,” tandasnya. (why)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional