Kasus Pembunuhan Hayatul Ulum, Dua Pelaku Ditangkap, Motif Belum Terungkap

Kapolresta Mataram Heri Wahyudi didampingi Kasatreskrim Polresta Mataram Kadek Adi Budi Asatawa Rabu, 24 Februari 2021 menunjukkan barang bukti dan tersangka pembunuhan Hayatul Ulum warga Pandai Besi, Karang Pule, Sekarbela, Mataram.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Dugaan pembunuhan Hayatul Ulum (22) di Jalan Sultan Kaharudin, Karang Pule, Sekarbela, Mataram akhirnya terungkap. Penyelidikan metode ilmiah yang mengandalkan sampel DNA membuahkan hasil. Pelaku terungkap berawal dari pencocokan noda darah.

Kapolresta Mataram Kombes Pol Heri Wahyudi menerangkan, pihaknya menetapkan dua tersangka dugaan pembunuhan pada 29 November 2020 lalu ini. yakni Tersangka IL alias Hil (35) warga Jempong Baru, Sekarbela, Mataram dan BM alias BR (34), warga Karang Pule, Sekarbela, Mataram. “Tersangka IL ini perannya sebagai eksekutor yang menusukkan pisau ke dada korban. Sementara BM sebagai jokinya yang mengendarai sepeda motor,” terangnya, Rabu, 24 Februari 2021 didampingi Kasatreskrim Polresta Mataram Kompol Kadek Adi Budi Astawa.

Iklan

Peristiwa dugaan pembunuhannya, sambung dia, bermula saat korban dalam perjalanan pulang ke rumahnya di Lingkungan Pandai Besi, Karang Pule, Sekarbela, Mataram. Korban menunggangi motor Yamaha Jupiter Z. Meski berjalan beriringan dengan kawannya, korban tidak mengira dia sedang dibuntuti. Sampai di Jalan Sultan Kaharudin, tepatnya di depan Masjid Nurul Huda. Korban didapati para tersangka yang berboncengan menggunakan Yamaha NMax tanpa nomor polisi.

Korban dipepet. Korban dihentikan para tersangka sampai tepi jalan. Korban merasa dirinya terancam sehingga meninggalkan motornya dan berlari menuju sepeda motor kawannya yang menyusul dari belakang. Tapi malang tak bisa dihindari. Tersangka IL langsung menghujamkan pisau ke dada kiri korban. “Korban masih bisa tetap berjalan dan dapat naik ke motor temannya. Sementara para pelaku melarikan diri,” kata Heri. Dalam perjalanannya menuju rumah sakit, Ulum sempat terjatuh dari boncengan temannya karena kehabisan tenaga akibat pendarahan hebat. Nyawa Ulum tidak bisa diselamatkan.

Pembuktian Lewat Saintifik Forensik

Kadek Adi menambahkan, setelah diselidiki, nama IL kemudian muncul. Rumahnya pun digeledah. Ditemukan pisau yang diduga dijadikan alat untuk menusuk korban. “Kita lakukan tes forensik DNA di Bareskrim Polri. Pisau dikirim dicek bekas darahnya,” ucapnya. Di sini, saintifik forensik memainkan perannya. Kekuatan hasilnya yang dijadikan alat bukti tidak bisa ditawar.

“Setelah tes DNA terhadap darah yang ada di pisau, maka disimpulkan hasilnya identik dengan darah korban,” kata Kadek Adi. Alat bukti ini dengan keterangan saksi sudah cukup untuk dijadikan dasar menyeret IL dan BM ke penjara. Meski demikian, dua tersangka masih mengelak. “Kami tidak mengejar pengakuan tersangka. Mereka memang tidak mengakui, tapi bukti-bukti yang menguatkan sangkaan kepada mereka,” jelasnya.

Namun, upaya penyidik belum usai. Kadek Adi mengatakan, kubur korban akan digali lagi untuk keperluan autopsi. “Untuk memastikan penyebab kematiannya,” ucapnya. Sampai saat ini, motif pembunuhan ini belum terungkap karena tersangka belum mengakui perbuatannya. Sejumlah teori tentang pemicu pembunuhan masih perlu pembuktian lagi. “Kita perlu urai lagi keterangan saksi-saksi untuk menggali motif pembunuhannya,” tutup Kadek Adi.

Para tersangka kini sudah ditahan di Rutan Polresta Mataram. Mereka dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, 338 KUHP tentang pembunuhan yang disengaja, dan 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan meninggal dunia. (why)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional