Kasus Pelecehan Seksual Mantan Anggota Dewan, Anak Korban Minta Ayahnya Dihukum Kebiri

Kuasa hukum anak korban pelecehan seksual ayah kandung mantan anggota dewan, Dr Asmuni (kanan) menceritakan kondisi korban, Jumat, 22 Januari 2021.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Politisi senior NTB, AA kini sudah mendekam di sel penjara atas tuduhan pelecehan seksual terhadap anak kandung. Pandangan korban terhadap ayahnya sudah tak lagi sama. Trauma mendalam membuat remaja putri 17 tahun ini berharap agar ayah kandungnya itu dihukum berat. Bahkan sampai hukuman tambahan kebiri.

Hal itu disampaikan korban melalui kuasa tim hukumnya Dr Asmuni, Karmal Maksudi, dan Miftahurrahman yang bernaung di Law Office 108, Jumat, 22 Januari 2021 saat menggelar keterangan pers di kantornya.

Iklan

“Kami meminta korban dihukum seberat-beratnya. Kami juga meminta agar dihukum kebiri supaya menjadi efek jera dan pembelajaran,” ucap Asmuni menyampaikan keluh kesah korban yang turut mendampingi di sampingnya.

Hukuman itu menurutnya cukup berdasar. Sebab, tersangkanya merupakan orang tua korban. Dalam Peraturan Pemerintah No70/2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak.

Pasal 1 ayat (2) menyebutkan, hukuman kebiri diberikana kepda pelaku yang pernah dipidana dengan karena melakukan kekerasan seksual. Atau memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya.

Asmuni mengemukakan kondisi psikologis korban. Diantaranya sampai kini masih diselemuti ketakutan. Bahkan terhadap suara dering telepon di ponselnya sendiri. Bayangan perilaku ayah kandung terhadap korban belum lepas dari ingatan.

“Sampai sekarang korban masih menangis ketika mengingat kejadian itu. Coba bayangkan bagaimana masa depan anak ini nantinya. Jadi untuk pelakunya pantas dihukum kebiri,” kata Asmuni dengan suara yang makin lantang.

Korban yang sedang dalam persiapan masuk perguruan tinggi ini sudah dalam pemulihan trauma. Didampingi Dinas Sosial dan LPA NTB.

Mulai Ramai Intervensi
Tersangka AA bukan orang sembarangan. Pria ini pernah duduk sebagai wakil rakyat di DPRD NTB selama dua dasawarsa. Juga memimpin Komisi I yang membidangi hukum. Ditambah lagi pengalamannya masuk jajaran pimpinan partai.

Asmuni mengaku dirinya banyak menerima panggilan telepon. Entah itu orang berpengaruh ataupun pihak keluarga tersangka. Namun dia menolak mundur.

“Kami akan mengawal terus kasus ini sampai tersangka ini divonis. Tidak ada perdamaian. Karena perbuatannya sudah di luar akal sehat, di luar kemanusiaan,” tegasnya.

Asmuni pun mengapresiasi langkah kepolisian yang bergerak cepat. Dia menyerahkan sepenuhnya penanganan kepada penyidik. Demikian juga dengan penerapan hukum terhadap tersangka. “Seperti apakah akan ditambahkan kebiri ini atau tidak. Atau apakah dari jaksa yang memberikan petunjuk penerapan pasal itu,” terangnya.

Kasatreskrim Polresta Mataram Kompol Kadek Adi Budi Astawa menyebutkan tersangka AA dijerat dengan pasal 82 ayat 2 UU Perlindungan Anak. Pihaknya belum mempertimbangkan mengenai penambahan pasal untuk kebiri.

“Kami belum ada ke sana. Tapi nanti apabila ada bukti-bukti tambahan kita akan gelar perkara,” jelasnya.

Tersangka AA diduga mencabuli putrinya pada Senin (18/1) lalu. Pelaku menemui putrinya yang meminta uang untuk membayar les. Istri kedua AA yang belakangan diakui sudah cerai, sedang dalam perawatan Covid-19.

Pelaku kemudian memeluk korban seperti hari-hari biasa. Pelaku lalu meminta korban untuk mandi. Pelaku lalu meminta korban yang baru selesai mandi untuk tidur di sampingnya.

Pelaku kemudian mencabuli korban. Meski korban sempat berontak, tapi kepala korban ditekan. Badan korban pun ditarik. Hasil visum menunjukkan ada luka robek baru tidak beraturan pada kemaluan korban. (why)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional