Kasus OTT Bantuan Masjid, Tersangka H Silmi Tidak Sebut Nama Lain

Para tersangka pungutan dana rehabilitasi masjid pascagempa, kompak menutupi wajah saat dihadirkan dalam konferensi pers yang dipimpin Kapolres Mataram, AKBP Saiful Alam, Kamis, 17 Januari 2019. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Tersangka dugaan pungutan dana bantuan masjid tahun 2018, H. Silmi tak lagi banyak berkilah. Sejauh penyidikan sementara ini, aliran dana pungutan bermuara kepada Kasi Ortala dan Kepegawaian Kanwil Kemenag NTB ini.

Tersangka H. Silmi mengaku keterlibatan proses pungutan dana bermuara pada dirinya. “Tidak ada,” kata penasihat hukumnya, Miftahurrahman, Senin, 21 Januari 2019 menjawab soal ada tidaknya peran orang lain.

Iklan

Tersangka H. Silmi sudah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka. Keterangannya masih seputar runutan mulai dari pungutan sampai aliran dananya.

“Silakan dulu versinya penyidik. Kita tidak mau berkomentar panjang lebar. Nanti kita lihat di persidangan,” kata Miftah. “Kita tidak mau buka dulu,” cetusnya.

Dalam kasus yang terungkap melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT) ini, Polres Mataram sudah menetapkan tiga tersangka. Mereka diduga bersekongkol memungut dana bantuan perbaikan untuk 13 masjid.

Para tersangka itu antara lain Kasi Ortala dan Kepegawaian Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag NTB, H Silmi, Kasubbag TU Kemenag Lobar, Muhamad Ikbaludin, dan Staf KUA Gunungsari, Lalu Basuki Rahman.

Mereka diduga sekongkol memungut dana bantuan perbaikan masjid. Total masjid yang dipungut sebanyak 13 masjid dengan potongan antara 10 persen sampai 20 persen.

Kapolres Mataram, AKBP Saiful Alam mengatakan kasus masih dalam proses pengembangan penyidikan. “Kami masih akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya kemarin.

Tersangka Ikbal diduga memungut dana bantuan yang diberikan kepada empat masjid di Kecamatan Lingsar, dan lima masjid di Kecamatan Batulayar, Lombok Barat. Hasil pungutan itu disetor bertahap.

Selain itu, Ikbal juga mendapat setoran dari tersangka Basuki, yang memungut dari empat masjid di Gunungsari, Lombok Barat. Dari bukti yang disita penyidik, duit pungutan Basuki disetor ke Ikbal yakni sebanyak Rp55 juta.

Tersangka Basuki menyetor ke Silmi baru sebanyak dua kali. Yakni pada Sabtu (5/1) sebesar Rp25 juta. Uang diantar langsung ke rumah tersangka Silmi. Selanjutnya pada Senin (7/1) sebesar Rp30 juta dimasukkan lewat setoran tunai langsung.

Tiga tersangka itu kini telah dijerat pasal 12e UU RI No20/2001 tentang perubahan atas UU RI No31/1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP juncto pasal 64 ayat 1 KUHP. (why)