Kasus Naik Turun, NTB Belum Capai Puncak Penyebaran Covid-19

Nurhandini Eka Dewi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Gugus Tugas NTB mencatat kasus Covid-19 di daerah ini masih naik turun. Sampai Sabtu, 17 Oktober 2020, jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 mencapai 3.699 orang.

Meskipun pada awal pekan lalu selama tiga hari terjadi penurunan kasus harian terkonfirmasi positif Covid-19 di bawah angka 10 orang. Namun kembali meningkat tiga hari berikutnya.

Iklan

“Artinya, naik turun kasus baru masih seperti gergaji. Kita belum mencapai puncak dan belum menuju pelandaian. Karena itu, tetap patuhi protokol kesehatan,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A di Mataram, Sabtu, 17 Oktober 2020.

Eka menyebutkan total jumlah sampel yang diperiksa dari bulan Februari sampai Sabtu, 17 Oktober 2020 tercatat sebanyak  33.792 sampel. Dengan total positif 3.699 orang. Sehingga positive rate di NTB sebesar 10,9 persen.

Sedangkan tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di NTB mencapai 81,29 persen. Dari 3.699 pasien terkonfirmasi positif, sebanyak 3.007 orang sudah sembuh. Tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di NTB berada di atas rata-rata nasional yang saat ini sebesar 78,85 persen.

Sementara pasien yang masih dirawat sebanyak 483 orang atau 13,06 persen. Dan pasien meninggal sebanyak 209 orang atau 5,65 persen. Eka menyebutkan hasil kerja Gugus Tugas Desa, Kecamatan dan Kabupaten/Kota sejak awal pandemi Covid-19 masuk NTB.

Tercatat 88.636 pelaku perjalanan.Dengan rincian 87.057 orang discarded atau selesai karantina, sedangkan 1.579 orang masih karantina. Sementara, hasil tracing kontak terhadap orang yang kontak erat dengan pasien positif Covid-19 tercatat sebanyak 28.822 orang. Dengan rincian, masih karantina 2.774 orang dan discarded atau selesai karantina 26.048 orang.

Terkait mulai maraknya acara-acara yang mengumpulkan orang banyak, seperti kegiatan kampanye, resepsi perkawinan dan acara adat. Eka mengatakan Gugus Tugas NTB telah membuat standard operating procedure (SOP).

“Acara perkawainan merupakan salah satu yang berpotensi membuat kerumunan massa. Gugus Tugas telah membuat SOP untuk pernikahan atau resepsi perkawinan. Resepsi perkawinan tetap indah dan sakral tetapi juga aman, tidak menimbulkan klaster baru,” katanya.

Penyelenggara acara resepsi perkawinan diminta melakukan pembatasan jumlah tamu yang diundang. Kemudian, penyelenggara kegiatan harus melaksanakan protokol Covid-19. Di mana, seluruh tamu harus memakai masker dan  dipantau suhu tubuhnya, cuci tangan pakai sabun atau handsanitizer serta jaga jarak.

“Dalam jaga jarak ini, kita minta wedding organizer, keluarga pemilik acara mengatur kursi tamu berjarak satu meter. Pilih lokasi yang luas, jika mengundang tamu yang lebih banyak,” ujarnya.

Sementara untuk upacara adat, diminta meminimalkan jumlah peserta. Yang jelas, adat dan keamanan acara adat tetap terjaga dengan menerapkan protokol Covid-19.

Sebelumnya, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Mataram, dr. Hamsu Kadriyan, Sp.T.H.T.K.L (K)., M. Kes menyarankan agar dilakukan tes massal. Menurutnya, tes massal cukup bagus dilakukan sehingga Pemda akan lebih mudah mengidentifikasi. Mana orang yang sakit, mana yang tidak.

Sehingga penyebaran Covid-19 yang  tidak terlihat bisa dipetakan. “Kalau banyak yang kita periksa, artinya rasio  pemeriksaan dengan jumlah penduduk, langsung bisa kita naikkan. Kalau sekarang, rasio pemeriksaan dibandingkan jumlah penduduk masih sangat rendah,” katanya. (nas)