Kasus Mesin Penghancur Eceng Gondok, Polisi Tidak Temukan Kerugian Negara

Praya (Suara NTB) – Penyelidikan terhadap kasus dugaan korupsi pengadaan mesin penghancur eceng gondok oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I, sejauh ini masih terus dilakukan jajaran Polres Lombok Tengah (Loteng). Namun hingga kini pihak kepolisian masih belum menemukan adanya indikasi kerugian negara dalam kasus tersebut, sehingga proses penyelidikannya berpotensi dihentikan.

“Dihentikan dalam artian, kasusnya belum bisa ditingkatkan ke tahap penyidikan. Karena selama proses penyelidikan indikasi penyimpangan dan indikasi kerugian negara tidak ditemukan sampai sejauh ini,” terang Kasat Reskrim Polres Loteng, AKP Rafles Girsang, SIK., kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin, 24 Juli 2017.

Iklan

Ia menjelaskan, total sudah belasan saksi yang dimintai keterangan. Pihaknya pun sudah beberapa kali ke Surabaya untuk mengecek harga mesin ini. Nyatanya, harga dan spesifikasi mesin penghancur eceng gondok sudah sesuai  dengan rencana anggaran dari pihak BWS sendiri.

Alat ini, lanjut Rafles juga sudah bisa berfungsi normal. Namun, karena luas area yang ditangani cukup luas, sehingga efektivitas penggunaan alat tersebut belum begitu terlihat. “Dulu saat pertama kali digunakan, mesin ini sempat mengalami kecelakaan (tenggelam,red). Tapi setelah diperbaiki, mesin  bisa berfungsi normal,” tambahnya.

Menurutnya, meski nantinya penyelidikan kasus tersebut tidak dilanjutkan pihaknya tetap melakukan pengumpulan data dan keterangan. Jika di kemudian hari ternyata ada ditemukan bukti baru yang bisa mengindikasikan telah terjadi penyimpangan dalam kasus tersebut, maka kasusnya akan dibuka kembali.

“Tidak ada istilah penyelidikan dihentikan. Tetap berlanjut untuk mencari bukti baru nantinya. Sehingga bisa memperkuat proses penyelidikan kasus itu sendiri. Karena untuk kasus korupsi, penanganannya memang berbeda dengan kasus-kasus pidana umum lainnya,” papar Rafles .

Tender proyek pengadaan mesin penghancur eceng gondok itu sendiri berlangsung pada tahun 2013 lalu. Kemudian pada awal tahun 2014 mesin ini diujicobakan di kawasan Bendungan Batujai. Tetapi rusak setelah mesin tersebut tenggelam begitu diturunkan ke air. Pihak BWS Nusa Tenggara I mengalokasikan anggaran sekitar Rp 1,5 miliar untuk membeli mesin tersebut.

Awalnya pihak kepolisian menduga terjadi mark up harga pada proses pembeli mesin. Namun setelah dilakukan penyelidikan, dugaan tersebut belum terbukti. “Indikasi kerugian negara belum kita temukan. Kalau dari sisi penggunaan, mesinnya sudah bisa digunakan. Begitu pula untuk harga pembelian mesin, juga sudah sesuai dengan pagu anggaran yang ada,” klaimnya. (kir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here