Kasus Meluas, Sumbawa Masih KLB Rabies

H. Junaidi. (Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (HPR) di Kabupaten Sumbawa masih terus terjadi. Sejak Januari hingga awal September 2020, tercatat sebanyak 137 kasus gigitan. Dari pemeriksaan sampel HPR, diketahui terdapat 20 kasus positif rabies.

Kasus ini sebarannya semakin meluas dibandingkan tahun sebelumnya. Sehingga dengan kondisi yang ada, Kabupaten Sumbawa masih digolongkan Kasus Luar Biasa (KLB) rabies.

Iklan

 “Terkait rabies, memang tahun 2019 itu berada pada posisi Ring 1 di Empang dan Tarano. Kemudian Ring 2 di Plampang dan Maronge. Pada tahun 2019 kita fokus di situ. Tapi karena penyebaran rabies ini bisa menular dari HPR satu ke HPR yang lain, jadi pada tahun 2020 ini justru sudah meluas. Terakhir kasus positif itu ada di Kecamatan Lopok dan  Utan,” kata  Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Sumbawa, H. Junaidi, S.Pt.

Diungkapkannya, sejak tahun 2019 hingga September 2020 ini, gigitan HPR tercatat sebanyak 485 kasus. Yang diberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) 448, dan diberikan Serum Anti Rabies (SAR) 19. Kemudian HPR yang menggigit sebanyak 438. Sampel HPR positif 77, sampel HPR negatif 99. Total HPR yang dilakukan vaksinasi sebanyak 20.051, rinciannya anjing 14.400, kucing 5.567, dan HPR lainnya 84. Pihaknya juga melakukan eliminasi terhadap HPR sebanyak 5.831. Dari jumlah tersebut, khusus tahun 2020 kasus gigitan sebanyak 137, diberikan VAR 125 dan SAR 15. Kemudian jumlah HPR yang menggigit sebanyak 117. Sedangkan sampel HPR yang positif sebanyak 20 tersebar di Kecamatan Labangka, Plampang, Lopok, Moyo Hulu dan Utan, dan sampel HPR negatif 22. Total yang sudah divaksin sebanyak 3.820 dengan rincian anjing 2.847, kucing 956, dan HPR lainnya 17. Sementara yang sudah dilakukan eliminasi sebanyak 224 HPR.

Dari kondisi kasus ini, Kabupaten Sumbawa masih digolongkan KLB rabies. Kesimpulan ini berdasarkan hasil keputusan pejabat otoritas medic veteriner. “Kemarin berdasarkan hasil keputusan pejabat otoritas medic veteriner menyimpulkan, dan sekarang kita berdasarkan pengamatan, kita masukkan surat telaan staf ke Bupati bahwa kita  digolongkan masih KLB,” terangnya.

Pihaknya berharap kepada masyarakat yang memiliki HPR agar dapat dilakukan vaksinasi. Karena vaksin anti rabies sudah dititipkan di UPT produksi dan kesehatan hewan. Di UPT pihaknya juga sudah mempunyai tenaga baik medic veteriner maupun paramedic veteriner, bahkan biaya vaksinasi gratis.

“Silakan bagi yang memelihara HPR untuk melaporkan kepada UPT produksi dan kesehatan hewan, sehingga nanti bisa dijadwalkan melaksanakan vaksinasi. Kemudian terhadap HPR yang liar, kami sudah berkoordinasi dengan kepala desa, camat untuk kiranya dapat dilakukan eliminasi terhadap HPR (anjing) liar.  Di beberapa tempat, khusus yang sudah terjangkit positif sudah dilakukan,” pungkasnya. (ind)