Kasus Melandai, ‘’Positivity Rate’’ Covid-19 di NTB Turun Tajam

Wagub NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah saat rapat analisa dan evaluasi penanganan Covid-19 di NTB, di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur, Senin, 30 Agustus 2021. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Kasus Covid-19 di NTB mulai menunjukkan tanda melandai. Hal tersebut terlihat dari angka positivity rate yang turun tajam menjadi 4,8 persen dibandingkan pekan sebelumnya sebesar 8,97 persen.

‘’Hasil evaluasi alhamdulilah, berkat kerja sama dengan TNI/Polri, Covid tertangani dengan baik. Positivity rate menurun tajam, sekarang 4,8 persen lebih dibandingkan minggu lalu 8 persen sekian,” kata Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah dikonfirmasi usai Rapat Analisa dan Evaluasi Penanganan Covid-19 di Kantor Gubernur, Senin, 30 Agustus 2021.

Iklan

Berdasarkan data Satgas Covid-19 Provinsi NTB, pekan sebelumnya per 28 Agustus 2021, angka positivity rate di NTB sebesar 8,97 persen. Dengan rincian, Kota Mataram 15,46 persen, Lombok Barat 13,26 persen, Lombok Tengah 14,74 persen, Lombok Utara 11,23 persen, Lombok Timur 9,36 persen, Sumbawa Barat 16,54 persen, Sumbawa 11,6 persen, Dompu 6,46 persen, Bima 6,25 persen, dan Kota Bima 7,52 persen.

Dari hasil analisa dan evaluasi yang dilakukan Senin, 30 Agustus 2021, kata Wagub, angka positivity rate NTB turun drastis menjadi 4,8 persen. Ia mengatakan, keberhasilan ini berkas koordinasi dan sinergi antara Pemda, TNI/Polri dan Pemerintah Desa/Kelutahan.

“Karena penanganan kita berbasis desa. Di situ ada Babinsa dan Bhabinkamtibmas beserta Pemerintah Desa dan Pemda. Alhamdulillah sudah semakin membaik,” katanya.

Meskipun angka positivity rate Covid-19 di NTB turun tajam, Wagub mengatakan Pemda tak boleh jumawa. Jangan sampai pelandaian kasus Covid-19 membuat Pemda menjadi lengah. Karena kondisinya bisa berbalik dengan cepat.

“Tak boleh jumawa. Tetap, yang namanya Covid, sekarang baik. Begitu kita lengah, langsung bisa berbalik,” ujarnya mengingatkan.

Wakil Ketua Satgas Covid-19 Provinsi NTB ini mengingatkan penerapan protokol kesehatan (prokes) harus tetap menjadi nomor satu. Kemudian tracing dan testing harus dimasifkan.

Selain itu, vaksinasi dosis kedua bagi masyarakat juga dipastikan segera dilaksanakan. “Jangan fokus ke vaksinasi pertama saja, tapi kedua ini juga jangan sampai lewat batas waktunya,” pintanya.

Wagub juga mengatakan salah satu yang menjadi pekerjaan rumah (PR) Pemda saat ini adalah pendataan kegiatan posko PPKM Desa/Kelurahan harus terinput dengan baik ke aplikasi Bersatu Lawan Covid (BLC). Karena pelaporan lewat aplikasi ini langsung dimonitor oleh Pemerintah Pusat.

“Kadang-kadang kecepatannya belum sesuai apa yang kita harapkan. Ini yang kita dorong supaya secepatnya menginput data,” terangnya.

Dikatakan, laporan dari Posko PPKM Desa/Kelurahan harus terinput 100 persen lewat aplikasi BLC. Namun, saat ini, Posko PPKM Desa/Kelurahan yang menginput laporan baru 13 persen di NTB.

“Padahal itu karena kita tidak input data. Kerja-kerja kita harus dihargai. Supaya apa yang kita kerjakan di lapangan terbaca di pusat,” tandasnya.

Selain positivity rate, Wagub juga menyebutkan cakupan testing terus mengalami peningkatan dari awalnya sangat sulit untuk mencapai 1/1000 penduduk perpekan. Namun, target tersebut terlampaui pada pekan terakhir. Cakupan testing mencapai 1,99/1000 termasuk dalam kelompok memadai.

Sebagian besar kabupaten kota telah testing dengan cakupan yang memadai kecuali Bima, Lombok Tengah, Sumbawa dan Lombok Timur. Dengan peningkatan testing diharapkan positivity rate akan terus mengalami penurunan sampai pada level memadai.

Sedangkan pada kegiatan tracing, mengalami penurunan dibanding beberapa minggu sebelumnya. Kasus konfirmasi ditracing mencapai 57,2 persen dengan rasio kontak erat 7,9 persen “Alhamdulillah NTB dari waktu ke waktu semakin baik. Namun, penanganan harus terus ditingkatkan agar penanganannya dapat berjalan maksimal,” pintanya.

Wagub juga menyebutkan pasien Covid-19 yang sedang menjalani isolasi di NTB sebanyak 538 orang. Baik melakukan isolasi mandiri, isolasi terpusat maupun isolasi terpadu harus terus diyakinkan. Jangan sampai mereka menularkan kepada keluarganya.

“Ini yang harus kita yakinkan di 10 kabupaten kota. Agar masyarakat yang ditracing kemudian positif agar menjalani isolasi yang sudah ditetapkan,” katanya. (nas)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional