Kasus Kematian Pekasih Desa Kesik Masih Diselidiki

Daniel P. Simangunsong. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Kematian pekasih desa di Desa Kesik Kecamatan Masbagik, Lombok Timur (Lotim) yang ditemukan tewas di tengah sawah sampai saat ini masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian. Meksipun jenazah korban sudah dilakukan otopsi dan ditemukan luka-luka bekas senjata tajam (sajam), namun penyebab kematian korban masih misteri.

Kasat Reskrim Polres Lotim, AKP Daniel P. Simangungsong, SIK, ditemui di ruang kerjanya, Jumat, 20 November 2020, menegaskan, ditemukan luka-luka akibat benda tajam di beberapa bagian tubuh korban. Besar dugaan korban meninggal lantaran dibunuh. Pihaknya juga sudah mendatangi lokasi untuk melakukan olah TKP untuk mencari bukti-bukti dan menggambarkan situasi di TKP pada saat kejadian.

Iklan

Dalam proses penyelidikan kasus ini, polisi melakukan penyelidikan dari empat motif, mulai dari hutang piutang, asmara, dendam dan gangguan kejiwaan. Namun penyidikan dari empat arah ini putus sehingga masih dilakukan penyidikan dari arah yang lain. “Proses penyidikan tetap jalan. Ada sekitar 20 saksi yang sudah kita mintai keterangan,” ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, warga di sekitar Dusun Lelung, Desa Kesik, Kecamatan Masbagik dihebohkan dengan ditemukannya jenazah Amaq Mani alias Amaq Canun di saluran irigasi Kokoq Maji, Rabu, 14 Oktober 2020 lalu sekitar pukul. 10.00 wita.

Korban yang berusia 74 tahun itu ditemukan mengapung di saluran irigasi dengan posisi telanjang dan dalam kondisi isi perut terburai. Sebelum ditemukan meninggal dunia, korban sempat ke salah satu bebaleq (saung) milik Sup, salah seorang warga setempat untuk sekadar minum kopi.

Korban merupakan pesuruh dari sejumlah Pekasih untuk mengurus kekasubakan di beberapa titik saluran. Setelah minum kopi, korban berpamitan untuk mencuci pakaian di saluran irigasi  Kokoq Maji.

Mayat korban ditemukan kali pertama oleh Anwar, salah seorang warga yang ingin membuang hajat di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Seketika itu, saksi Anwar berteriak histeris dan memanggil sejumlah warga lainnya yang kebetulan tengah memanen kacang tak jauh dari lokasi. (yon)