Kasus Kekerasan Terhadap Anak Mengkhawatirkan di KSB

Taliwang (Suara NTB) – Satuan Bhakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Kementerian Sosial RI Kabupaten Sumbawa Barat mencatat ada sekitar 40 kasus yang melibatkan anak-anak selama tahun 2016. Jumlah tersebut, masih didominasi oleh kasus anak yang berhadapan dengan hukum dan kasus asusila yang melibatkan anak di bawah umur.

Sakti Peksos Kementerian Sosial RI Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Ari Wiwit Widiatmanto, S.Kom kepada Suara NTB, Selasa, 31 Januari 2017 menyebutkan, dari 40 kasus yang ditangani pihaknya selama tahun 2016 tersebut, masih didominasi oleh kasus anak melawan hukum.

Iklan

Salah satu contohnya adalah pencurian sebanyak 12 kasus. Selanjutnya, kasus tindakan asusila (Persetubuhan) sebanyak sembilan kasus dan delapan kasus lainnya yakni kasus pencabulan.

Dari jumlah kasus tersebut, tercatat ada sekitar 27 orang korban. Dengan rincian, untuk SMP ada sekitar 11 anak yang menjadi korban kekeresan seksual. Kemudian, ada sembilan anak SD yang menjadi korban pencabulan dan tujuh kasus lainnya melibatkan anak SMA yang terlibat masalah kasus pencurian.

“Jumlah tersebut tentu mengkhawatirkan. Apabila ini terus dibiarkan maka akan berdampak negatif bagi daerah ini,” ungkapnya.

Sementara untuk tahun 2017, dalam bulan Januari saja pihaknya sudah menangani delapan kasus. Dengan rincian, tiga kasus tindak pidana asusila (persetubuhan) terhadap anak di bawah umur. Sedangkan lima kasus lain yang melibatkan anak-anak adalah kasus pecurian.

Tentu jumlah tersebut sudah bisa dikategorikan dengan kondisi darurat kasus anak. Mengingat baru diawal tahun saja sudah ada delapan kasus yang ditangani. Jumlah tersebut, tentunya meningkat apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Apabila masalah ini terus dibiarkan maka tidak menutup kemungkinan jumlah kasus ini juga akan meningkat.

“Apabila masalah ini tidak segera ditanggapi secara serius, maka tidak menutup kemungkinan Sumbawa Barat tidak layak mendapatkan kota layak anak,” ujarnya.

  Dukung Langkah Gubernur Tutup Tambang Ilegal Sekotong

Disebutkannya, faktor utama yang menyebabkan kasus ini terjadi, seperti adanya faktor kekerasan di dalam rumah tangga (KDRT) di lingkungan korban maupun pelaku, pola asuh terhadap anak, dan media sosial.

“Faktor-faktor ini yang menyebabkan anak-anak ini bisa menjadi korban dan pelaku dalam kasus ini,” sebutnya.

Tentu dalam meminimalisir hal tersebut, pihaknya akan berusaha semakin maksimal lagi untuk melakukan advokasi sosial. Seperti melakukan upaya pencegahan melalui sosialisasi-sosialisasi, penyuluhan untuk semakin menekan kasus ini. (ils)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here