Kasus Kebun Kopi Tambora Kadisbun Minta Dana Rp31 Juta

Saksi Hariadi memberi kesaksian dalam sidang kasus kopi Tambora tahun 2006 dengan terdakwa Heru Priyanto mantan Kadis Perkebunan Kabupaten Bima.  (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Terdakwa korupsi peningkatan produksi kopi Tambora Kabupaten Bima, Heru Priyanto diduga menerima Rp31 juta dari pengepul Muhammad Hariadi. Kesepakatannya diganti dengan hasil panen kopi. Hal itu terungkap dalam sidang Selasa (30/4) di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram.

Saksi diajukan ke majelis yang diketuai Ferdinand M Leander oleh jaksa penuntut umum Wayan Suryawan. Hariadi yang merupakan pensiunan PNS Kecamatan Pekat, Kabupaten Bima mengenal Kadisbun Heru lewat Suparno. “Itu penjaga kebun PT Bayaji kopi. Dia bilang Kadis butuh dana Rp31 juta,” ucapnya menjawab pertanyaan hakim.

Iklan

Meski demikian, dia mengaku tidak tahu keperluan Heru terhadap uang tersebut. Sampai pada sekira bulan Juni 2006, dia bersama Suparno menemui terdakwa Heru di rumah pribadinya. “Saya kasih uangnya. Diterima. Lalu Kadis bilang nanti saya kasih hasil panen kopi Tambora,” beber Hariadi. Seminggu berselang, panen pertama kebun kopi Tambora dikirim ke Hariadi sesuai kesepakatan yang tertuang dalam surat yang ditandatangani. “Yang panen pertama saya dikasi kopi 5 ton,” sebutnya.

Dalam perkara itu, terdakwa Heru disebut tidak membayarkan hasil pengelolaan kebun kopi Tambora pada tahun 2006, Pembayaran Rp31 juta itu tidak disetor ke kas negara. Selain itu ada juga sebesar Rp8 juta untuk operasional terdakwa yang saat itu menjabat Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bima.

Pengelolaan kebun kopi di Desa Oi Bura Kecamatan Tambora Kabupaten Bima dilaksanakan dengan anggaran dari APBD Kabupaten Bima tahun 2016. Pengelolaan kopi tersebut di bekas lahan Hak Guna Usaha PT Banyuaji.

Total anggaran yang digelontorkan Rp378 juta. Penggunaan anggaran berupa pemetikan kopi gelondongan basah dan penjualan hasil kopi dalam rentang bulan Juli sampai Oktober 2006. Akibat korupsi, negara dirugikan Rp218 juta. (why)