Kasus Jembatan Ambruk, Polisi Tunggu Hasil Uji Lab

Selong (Suara NTB) – Aparat Kepolisian dari Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Lotim sejauh ini belum menerima hasil uji Laboratorium (uji lab) terhadap material jembatan penghubung antara Kelurahan Pancor dan kelurahan Sekarteja yang ambruk beberapa waktu lalu. Akibatnya, aparat kepolisian yang menangani kasus tersebut tidak bisa bergerak menangani kelanjutan kasus jembatan tersebut karena harus menunggu hasil uji lab yang dilakukan oleh tim dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

“Kita masih menunggu hasil uji lab itu, tanpa itu mau apa dan siapa lagi yang diperiksa,” ujar Kasat Reskrim Polres Lotim, AKP. Antonius F. Gea, dikonfirmasi diruang kerjanya, Jumat, 2 Desember 2016 kemarin.

Iklan

Dikatakannya, alasan belum turunnya hasil uji lab jembatan itu karena pihak ITS menangani seluruh Indonesia, sehingga proses uji lab sampai dengan keluarnya hasil itu harus mengantre.

Antonius menegaskan, uji lab terhadap material jembatan dalam tahap I tersebut juga tidak bisa dikatakan mandek, karena bisa jadi pihak dari ITS memiliki tugas yang lebih penting untuk terlebih dahulu diselesaikan.

“Koordinasi tetap kita lakukan dengan tim dari ITS,” akunya.

Antonius menyebut, dalam kelanjutan penanganan kasus tersebut, pihaknya tetap harus menunggu hasil uji lab yang dilakukan tim ITS. Sebagaimana diketahui, tim dari ITS beberapa waktu lalu sudah turun langsung ke TKP dan telah mengambil sejumlah sampel berupa material jembatan khsususnya terhadap pondasi jembatan yang merupakan proyek tahap pertama (tahap I). Saat itu Ketua Tim dari ITS, Fuzi Irmawan mengatakan jika hasil uji lab bisa keluar selama 10 hari.

Untuk proyek tahap I ini, anggaran yang digelontorkan sebesar Rp 1. 360.125.770 yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Dinas PU tahun 2015.

  Tangani Kasus Jembatan Ambruk, Polres Lotim Libatkan ITS

Setelah pondasi selesai dikerjakan, pembangunan jembatan kembali dilanjutkan untuk tahap kedua (tahap II) berupa pembangunan bantalan jembatan dengan anggaran sekitar Rp 700 juta. Akan tetapi, dalam pengerjaan tahap II ini bantalan jembatan ambruk dan menewaskan sebanyak enam pekerja.

Usut punya usut, aparat kepolisian hanya menetapkan satu orang tersangka dalam kasus tersebut yakni kepala tukang, walaupun pemeriksaan terhadap sejumlah pihak terkait seperti Kabid Bina Marga pada Dinas PU Lotim, Mudahan serta Direktur CV Pilar Mandiri, H. Salman selaku pihak rekanan dan sejumlah pihak terkait terus dilakukan waktu itu. Alasan aparat kepolisian menetapkan kepala tukang sebagai tersangka lantaran disinyalir sebagai orang yang paling mengetahui dan bertanggung jawab atas pengerjaan proyek jembatan tersebut. (yon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here