Kasus Investasi Dapoer Emak Caca, Tersangka Berdalih Terdampak Pandemi

Penyidik menggiring pemilik Dapoer Emak Caca Laras Chyntia Jumat, 30 Oktober 2020. Tersangka diduga melakukan penipuan dan penggelapan investasi bisnis kuliner. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Korban dugaan penipuan investasi bisnis kuliner Dapoer Emak Caca bertambah. Dari yang semula enam orang menjadi 16 orang. Mereka ini menanamkan modal mulai dari Rp25 juta. Iming-iming imbal baliknya Rp36 juta. Alih-alih keuntungan, modal awal pun hangus.

Pemilik Dapoer Emak Caca Laras Chyntia sudah menghuni Rutan Polresta Mataram. Wanita yang memang profesinya koki ini disangka pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan pasal 378 KUHP tentang penipuan. Bisnis kuliner yang dirintisnya lima tahun lalu ini malah menggiringnya ke penjara.

Iklan

“Sebelumnya sama sekali tidak pernah macet. Ini gara-gara Covid,” kata Laras berdalih saat dihadirkan dalam konferensi pers, Jumat, 30 Oktober 2020. Pandemi Covid-19 memang menghantam bisnis makanan minuman. Tetapi, Laras ini juga menjanjikan investasi di bidang akomodasi Caca Village, selain kuliner Caca Crab dan Caca Garden Café.

Laras mengaku tidak ada niatan menipu investor. Akumulasi modal investor dikelolanya sendiri. “Saya sulit percaya orang lain,” ucapnya. Uang diputar di lima outlet bisnisnya. Juga, untuk membeli tanah, pelebaran unit usaha, dan perabotan.

“Saya ingin mengembalikan semuanya. Mau berusaha lagi dari nol. Tapi sejak ditahan. Usaha saya tidak ada yang jalan lagi. Saya minta maaf ke teman-teman,” kata Laras.

Kasatreskrim Polresta Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa mengungkapkan, bisnis yang ditawarkan tersangka Laras diduga fiktif. “Kita sudah cek Caca Village yang di Lombok Tengah. Tidak ada bisnis itu. kita simpulkan ini penipuan penggelapan,” bebernya.

Modus penipuannya, investor ditawari setoran modal awal Rp25 juta. Dalam jangka waktu perjanjian, investor dijanjikan modalnya dikembalikan. Ditambah keuntungan sehingga total menjadi Rp36 juta.

“Setiap hari dijanjikan pengembalian Rp400 ribu,” urainya.

Tapi sampai jangka waktu yang dijanjikan, uang modal maupun keuntungan tidak kunjung kembali. “Korban tidak mendapat pengembalian. Tidak ada kejelasan ataupun realisasi,” sebut Kadek Adi.

Tim penyidik kini masih menghitung selisih kerugian korban. Indikasinya bahkan mencapai miliaran. “Kita masih dalami berapa kerugiannya, kita tidak bisa mengandai-andai,” imbuhnya.

Tersangka Laras sudah ditahan sejak Senin, 5 Oktober 2020 lalu. Berdasarkan laporan enam korban. Sampai kemarin, korban yang melapor bertambah 10 orang. Total korban saat ini baru 16 orang.

“Kami mempersilakan (lapor) kalau ada yang dirugikan lagi, supaya kami bisa kompulir dan pendalaman,” tandas Kadek Adi. (why)