Kasus HIV/AIDS di Mataram Tertinggi di NTB

Margaretha Cephas. (Suara NTB/jun)

Mataram (Suara NTB) – Dari 10 Kabupaten/Kota di NTB, Kota Mataram tertinggi temuan kasus HIV/AIDS. Dalam kurun waktu 2001-2020, tercatat 560 kasus. Sebanyak 278 kasus di antaranya HIV, sedangkan AIDS sejumlah 282 kasus. Sementara angka kematian dari total kasus tersebut terdata sebanyak  122 orang.

Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Mataram, dr. Margaretha Cephas kepada wartawan, Senin, 29 November 2021 menjelaskan, wilayah ini tergolong tinggi kasus HIV/AIDS bukan karena pada sembilan Kabupaten/Kota lain di NTB tidak ada kasus. Akan tetapi tingkat temuan KPA-nya yang masih kurang. “Kalau di Kota Mataram tertinggi, karena KPA-nya aktif. Kalau KPA-nya ndak aktif, ya ndak tinggi,” ungkapnya.

Iklan

Sebanyak 560 kasus tersebut, lanjut dia, belum termasuk temuan kasus di tahun 2021. Di mana sejak Januari-Agustus kemarin, KPA sudah menemukan 9 kasus HIV, 6 kasus AIDS dan 1 kasus kematian anak remaja akibat AIDS di RSUD Kota Mataram.

Dari belasan kasus HIV/AIDS itu rata-rata akibat perilaku seks bebas. Ironisnya, mereka mengidap penyakit ini tanpa diketahui orang tua, sehingga kurang mendapat dukungan saat menjalani masa pengobatan. “Pasien yang di kota terlayani dengan baik di rumah sakit kota dan provinsi. Mereka kebanyakan orang tidak mampu, pendapatan tidak ada, gizi tidak terpenuhi, orang tua tidak tahu, lalu siapa yang akan mengingatkan dia untuk minum obat ARV,” jelasnya.

Ditegaskan Margaretha, kematian Orang dengan AIDS atau ODA bukan semata karena virus HIV-nya, tetapi lebih banyak disebabkan penyakit ikutan seperti TBC, tumor otak, diare dan berbabagi penyakit lain yang membuat daya tahan tubuh pasien melemah. Karenanya, dalam kondisi ini peranan orang tua atau keluarga sangat penting, terutama untuk mendukung proses penyembuhan ODA.

Terhadap belasan kasus yang ditemukan setahun terakhir, semuanya dalam masa pengobatan namun belum ada satupun yang diketahui anggota keluarganya. “Kasus baru ini jalan sendiri tanpa keluarga, tapi tetap diawasi,” ujarnya.

Di samping menular dan mematikan, HIV/AIDS tergolong penyakit yang tidak bisa ditangani dengan program vaksinasi layaknya Covid-19. Pasalnya, HIV/AIDS begitu cepat bermutasi ke tiap orang dengan varian-varian lain. “Itu beratnya. Kalau divaksin Covid-19 ndak akan membahayakan bagi ODA,” tandasnya. (jun)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional