Kasus Dugaan Penistaan Agama di Dompu, Polisi Tunggu Saksi Ahli

Dompu (Suara NTB) – Kasus dugaan penistaan agama di Media Sosial (Medsos) oleh R (26) berlanjut. Penyidik kini memeriksa saksi ahli dari Kominfo untuk memastikan unggahan status pemilik akun RB itu memenuhi unsur pidana atau tidak.

Kasat Reskrim Polres Dompu, AKP. Daniel Partogi Simangungsong, S.IK., mengaku telah menginstruksi anggotanya untuk meminta keterangan saksi ahli kominfo terkait dugaan tindak pidana yang dilakukan warga Lingkungan Ginte Kelurahan Kandai II ini. “Sudah kita proses itu, jadi sekarang penyidik sedang ke Jakarta untuk periksa ahli kominfo,” kata dia kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin, 16 April 2018.

Iklan

Pasca diamankan 1×24 jam tak lama setelah menggunggah status berbau sara itu R dilepas dengan syarat wajib lapor. Akan tetapi hingga saat ini kewajiban tersebut tak juga dipenuhi. Karenanya, ketika terbukti bersalah tersangka akan dijemput paksa.

Daniel Partogi mengulas, sebelum akirnya kasus ini dilaporkan pihaknya terlebih dahulu berkoordinasi dengan beberapa lembaga seperti FUI, JAZ, Kemenag dan MUI. Mereka rata-rata keberatan dan mengecam perbuatan R di media sosial tesebut. Namun karena telah meminta maaf dan mengklarifikasi isi statusnya R lantas dimaafkan dan dilepas dengan syarat wajib lapor.

Setelah keluar dari tahanan R kembali berencana mendemo Polres Dompu karena keberatan ditahan selama 1×24 jam. “Setelah dia keluar dari kantor polisi dia hapus statusnya terus di luar merasa tidak bersalah, malah dia dengan GMNI mau demo polisi karena diamankan 24 jam. Padahal kita amankan bukan karena tangkap atau apakan, karena patroli cyber menemukan hal itu kita antisipasi takutnya diamuk massa,” jelasnya.

Mendengar ulah tersangka yang itu empat lembaga tersebut keberatan hingga akhirnya memutuskan untuk melapor resmi R dengan dugaan melecehkan agama. Pun tokoh adat, masyarakat dan pemuda ikut melaporkan kasus ini, dan beberapa diantara mereka akan dijadikan saksi selain pihak-pihak yang memberi komentar pada status R 5 April 2018 lalu.

Sementara barang bukti yang kini disita yakni 1 buah Hp dan hasil tangkapan layar status tersangka. “Pasal sangkaan kita itu Pasal 27 dan 45 Undang-undang ITE dengan acaman hukuman 6 tahun,” pungkasnya. (jun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here