Kasus Dermaga Gili Air 2017, Satu Tersangka Belum Bisa Dipulangkan

0
I Gusti Putu Gede Ekawana. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pelimpahan tahap dua kasus pembangunan dermaga Gili Air, Lombok Utara tahun 2017 terkendala tersangka yang sedang diadili dalam perkara lain. Yakni rekanan penerima kuasa, ED yang menjalani persidangan di Jawa Timur. “Kita sudah kirim surat ke Kemenkumham (wilayah Jawa Timur) untuk membawa dia (ES) ke sini,” ungkap Dirreskrimsus Polda NTB Kombes Pol I Gusti Putu Gede Ekawana, Sabtu, 19 Juni 2021.

Namun, permintaan tersebut belum ditanggapi. ES kini statusnya sebagai tahanan dalam kasus dugaan korupsi pembangunan pasar di Jawa Timur. Prosesnya sedang tahap penuntutan. “Kita belum dapat jawaban. Kalau sudah ada itu, dia kita bawa ke sini lalu kita limpahkan dia bersama tersangka yang lain,” jelas Eka. Kasus dermaga Gili Air ini berkasnya sudah dinyatakan lengkap alias P-21.

IKLAN

Tugas penyidik selanjutnya melimpahkan tersangka dan barang bukti ke jaksa penuntut umum untuk diajukan ke pengadilan. “Kalau dia (ES) tidak kabur. Dia ada kasus lain di sana (Jawa Timur),” terang Eka. Tersangka ES ini memiliki peran sebagai penerima kuasa. ES meminjam bendera perusahaan lain, yakni tersangka SU. Mereka membuat kesepakatan. ES sebagai pelaksana pekerjaan. Sementara SU yang meminjamkan perusahaan diberi kompensasi.

Perusahaan milik SU ini memenangi tender memenangi tender pengerjaan proyek pembangunan Dermaga Gili Air senilai Rp6,28 miliar. Proyek dermaga Gili Air dibiayai dengan anggaran dari APBN dalam bentuk Dana Alokasi Khusus (DAK) 2017. Konsultan pengawas, tersangka LH dan SW menyatakan progres pekerjaan sesuai dengan kontrak. Meskipun diduga ada kelebihan pembayaran dan kekaurangan volume dalam pengerjaan proyek.

Walaupun begitu, tersangka pejabat pembuat komitmen pada Dinas Perhubungan Kelautan dan Perikanan Lombok Utara, bernisial AA tetap membayar proyek itu sesuai kontrak yang kemudian dihitung sebagai kerugian negara sebesar Rp1,24 miliar berdasarkan perhitungan BPKP. (why)