Kasus DD/ADD Sesait Selangkah Lagi Naik ke Penyidikan

Yusuf. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Kejari Mataram sudah menemukan indikasi perbuatan pidana dugaan penyimpangan DD/ADD Sesait, Kayangan, Lombok Utara. Indikasi korupsi tersebut pada proyek fisik desa yang mangkrak. Tinggal hasil audit yang dinanti untuk bisa meningkatkan status penanganan kasus.

Kepala Kejari Mataram Yusuf menerangkan penyelidikan kasus tersebut melaju sesuai dengan target penanganan kasus. Namun, masih memerlukan alat bukti unsur kerugian negaranya. “Dokumen LHP Inspektorat KLU,” ucapnya, akhir pekan lalu.

Iklan

Permohonan LHP tersebut sudah dilayangkan. Tetapi, kata dia, tim Inspektorat masih perlu tambahan waktu lagi. “Katanya secepatnya mau diberikan,” imbuh Yusuf.

LHP Inspektorat tersebut, tambah Yusuf, merupakan salah satu alat bukti yang dibutuhkan tim jaksa penyelidik Pidsus. Dalam hal ini kaitannya dengan unsur kerugian negara.

“Kita ingin lihat temuan mereka (Inspektorat) seperti apa,” ujarnya.

Temuan awal menunjukkan adanya indikasi pekerjaan fisik yang mangkrak. Bahkan tidak bisa dimanfaatkan sama sekali. Yakni panggung peresean Desa Sesait yang dianggarkan Rp640 juta pada tahun 2019.

“Kemungkinan total loss karena pekerjaan fisik tidak selesai. Tapi kita tidak mau berandai-andai. Kita lihat dulu LHP-nya,” tandas Yusuf.

Pada tahun 2019, Desa Sesait mengelola DD sebesar Rp2,45 miliar, ADD sebesar Rp1,433 miliar, dan dana Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Daerah (BHPRD) sebesar Rp235,15 juta. Dalam LKPJ tahun 2019, sejumlah proyek fisik diduga bermasalah.

Antara lain rehabilitasi kantor desa senilai Rp185,08 juta yang hanya terealisasi tiang pilarnya.

Kemudian proyek fisik lain yang tidak jelas laporannya antara lain proyek jalan pemukiman senilai Rp18,28 juta, proyek pengerasan jalan lingkungan sebesar Rp102,75 juta dan peningkatan jalan desa sebesar Rp297,13 juta. Program Festival HUT desa Rp103,73 juta, rehabilitasi rumah adat Rp642,9 juta, pembinan lembaga adat Rp17,34 juta, peningkatan produksi tanaman pangan Rp339,3 juta, dan peningkatan produksi peternakan Rp37,96 juta. (why)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here