Kasus DBD di Loteng dan Lobar Meningkat Drastis

Nurhandini Eka Dewi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Dua kabupaten di NTB dilaporkan mengalami peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Padahal, sejak Mei siklus DBD diharapkan telah mencapai puncak dan mengalami penurunan pada Juni.

‘’Kita turun kecuali di dua kabuapten, Lombok Barat dan Lombok Tengah,’’ ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi saat dikonfirmasi, Senin, 15 Juni 2020. Bahkan peningkatan kasus di dua kabuapten tersebut diakui cukup tinggi.

Iklan

Disebutkan, untuk delapan kabupaten/kota lain yang ada di NTB kasus DBD telah mengalami penurunan. ‘’Tapi di Lombok Barat bulan ini dia mulai naik lagi. Harusnya, bulan Mei itu mulai penurunan,’’ jelasnya.

Untuk Lombok Barat disebut Eka mengalami peningkatan jumlah kasus hingga 2 kali lipat. Sedangkan untuk Lombok Tengah mengalami peningkatan hingga 10 kali lipat. ‘’Lombok Tengah ini yang peningkatannya drastis,’’ jelasnya.

Hal tersebut diduga terjadi karena kondisi lingkungan yang masih belum cukup bersih, dimana banyak jentik-jentik nyamuk menemukan lokasi untuk berkembang.

Dicontohkan Eka seperti dominasi pasien DBD. Dimana sebagian besar terdiri dari usia produktif. ‘’Jadi orang-orang yang masih ke sana ke mari itu,’’ ujarnya.

Di sisi lain, penanganan kasus DBD disebut Eka saat ini bsia disinergikan dengan penanganan pandemi virus Corona (Covid-19) yang berlangsung. Dimana untuk mencegah potensi penyebaran Covid-19, salah satunya dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat.

‘’Kita harus bersyukur, pandemi Covid-19 yang mengacaukan dunia ini untuk mencegahnya itu caranya sederhana dan murah. Pakai masker, cuci tangan pakai sabun, jaga jarak. Tiga ini. Yang lain seperti kurangi merokok, rumah dan lingkungan harus bersih itu juga jadi upaya kita mencegah,’’ ujarnya.

Sejak Januari lalu, Dikes NTB mencatat jumlah penderita DBD di NTB sampai saat ini hampir mencapai 3.000 kasus. Dimana angka kematian karena DBD di NTB juga mengalami peningkatan, yaitu mencapai 13 kasus.

“Kita sudah puncak itu April. Sekarang (harusnya) sudah mulai turun, tapi masih saja ada. Kita hampir 3.000 kasus, kematian 13 kasus. Ini agak naik, padahal tahun lalu Cuma ada 3 orang (yang meninggal karena DBD),” pungkas Eka. (bay)