Kasus Dana Bantuan Masjid, Terdakwa Silmi Susun Kontramemori Kasasi

Silmi (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Jaksa penuntut umum mengajukan kasasi atas vonis Pengadilan Tinggi NTB terhadap terdakwa Silmi, dalam perkara korupsi pungutan dana bantuan masjid terdampak gempa.

Silmi, pejabat Kanwil Kemenag NTB pun mengajukan kontramemori kasasi untuk menghadapi jaksa. Penasihat hukum Silmi, Burhanudin menjelaskan bahwa dirinya optimis dengan upaya hukum lanjutan yang sampai ke Mahkamah Agung tersebut.

Iklan

“Pada intinya ada penerapan pasal yang tidak pas, dan itu dibuktikan dalam putusan banding,” ujarnya, Jumat, 22 November 2019.

Menurutnya, kliennya yang sempat menjabat Plt Kepala Kemenag Sumbawa Barat itu tidak terbukti memaksa ataupun mengancam orang lain untuk menyerahkan sejumlah uang. Sehingga, menurutnya hakim banding sudah tepat dalam penerapan hukum.

“Uangnya juga tidak ada yang dinikmati. Uangnya kan sudah dikembalikan. Jadi untuk kasasi ini kita juga siapkan kontramemori kasasi. Sedang kita susun,” paparnya.

Terpisah, Kasi Pidsus Kejari Mataram Anak Agung Gde Putra menerangkan sebelumnya, memori kasasi untuk terdakwa Silmi sudah diserahkan ke Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram.

“Memori kasasinya sudah kita serahkan. Kita tinggal menunggu kasasi itu dikirimkan,” ujarnya.

Pengadilan Tinggi NTB menjatuhkan vonis kepada Silmi dengan pertimbangan pasal 11 UU RI No 20/2001 tentang perubahan atas UU RI No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 Ayat 1 Ke-1 KUHP.

Silmi terbukti memerintahkan mantan Kasubag TU Kemenang Lombok Barat M Ikbaludin untuk memungut dana bantuan masjid terdampak gempa masing-masing sebesar 30 persen dari total dana yang diterima.

Ikbaludin kemudian menyuruh pegawai KUA Gunungsari, Lalu Basuki Rahman untuk ikut memungut. Total dana yang berhasil dipungut dari 12 masjid di tiga kecamatan di Lombok Barat yakni Rp104 juta. Silmi dapat bagian Rp54,7 juta.

Uang itu dikembalikan kepada Ikbal seolah-olah uang pinjaman. Hakim banding PT NTB menjatuhi Silmi dengan hukuman pidana penjara selama satu tahun delapan bulan, denda Rp50 juta subsider satu bulan kurungan.

Sementara Pengadilan Negeri Mataram memvonis Silmi dengan penjara empat tahun penjara, denda Rp100 juta subsider dua bulan kurungan. (why)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here