Kasus CSR PDAM, Sahyan Terbukti Gunakan Uang untuk Janji Kampanye

Mantan Kades Lingsar, Sahyan mendengarkan tuntutan jaksa penuntut umum yang dibacakan dalam sidang di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram, Rabu, 5 Februari 2020.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Mantan Kades Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat Sahyan dituntut jaksa penuntut umum agar dihukum penjara selama satu tahun sembilan bulan. Sahyan dinilai terbukti bersalah korupsi dana CSR PDAM Giri Menang sebesar Rp165 juta. Dana itu dipakai untuk menjalankan program 100 harinya pascaterpilih sebagai Kades Desember 2018 lalu.

Tuntutan pidana itu diajukan jaksa penuntut umum Ida Ayu Camundi Dewi, Rabu, 5 Februari 2020 kepada majelis hakim yang diketuai Anak Agung Putu Ngurah Rajendra dalam sidang di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram. Camundi mengajukan tuntutan berdasarkan pembuktian pasal 3 juncto pasal 18 UU Tipikor.

Iklan

“Menuntut majelis hakim agar menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Sahyan dengan penjara selama satu tahun dan sembilan bulan,” ucapnya.

Selain itu, jaksa juga menuntut pidana denda sebesar Rp50 juta yang apabila tidak dibayar maka harus diganti Sahyan dengan kurungan selama tiga bulan. Ditambah dengan pembayaran uang pengganti kerugian negara sebesar Rp165 juta. Dikurangi yang sudah dikembalikan sebesar Rp5,75 juta sehingga menjadi Rp159,25 juta.

“Apabila tidak dibayar dalam waktu satu bulan setelah inkrah, maka harta benda terdakwa dapat disita untuk dilelang. Apabila terdakwa tidak mempunyai harta benda maka diganti dengan penjara selama enam bulan,” imbuh Camundi.

Dia menyatakan, Sahyan terbukti bersalah menggunakan dana CSR PDAM Giri Menang dengan tidak sesuai ketentuan. Dana sebesar Rp165 juta langsung digunakan sesuai keinginan Sahyan. Padahal, dana CSR tersebut harus lebih dulu dibahas dalam Musrenbangdes dan ditetapkan penggunaannya pada APBDes.

Dana CSR itu penggunaannya juga diatur. Yakni 40 persen untuk pelestarian alam dan lingkungan, 30 persen untuk peningkatan dan penguatan perekonomian masyarakat, dan kegiatan sosial kemasyarakatan yang punya imbal balik terhadap usaha PDAM Giri Menang.

“Terdakwa langsung menyalurkan ke masyarakat tanpa musyawarah. Dana itu digunakan untuk merealisasikan program 100 hari kerja,” kata Camundi.

Sahyan langsung menggunakan dana untuk bantuan seragam karang taruna, seragam gendang beleq, bantuan klub sepakbola, bantuan remaja masjid, bantuan bulan suci Ramadhan, sumbangan anak yatim, dan bantuan sembako fakir miskin.

Akibatnya, Desa Lingsar rugi Rp165 juta. Belakangan sejumlah saksi mengembalikan uang yang diberikan Sahyan sebesar Rp5,75 juta. Kerugian negaranya dihitung menjadi Rp159,25 juta. (why)