Kasus Covid Meningkat, Pengusaha Minta Perbankan Beri Kelonggaran

Agus Ariana. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Angka penularan Covid-19 naik, baik nasional, juga di NTB. Hal ini menjadi perhatian tersendiri bagi kalangan pengusaha. Situasi ekonomi semakin berat. Karena itu, perbankan diharapkan turut memakluminya. Pemerintah masih memberlakukan PPKM Darurat di berbagai daerah di Indonesia, pun di Kota Mataram sebagai ibukota provinsi ini.

Bagi Ketua Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) Provinsi NTB, Agus Ariana, kondisi para pengusaha ibaratnya sudah ada pada pertahanan terakhir. Setelah dua tahun Covid-19. Gelombang kedua Covid-19 terjadi saat ini. Dunia usaha menurutnya sudah tak bisa berbuat banyak. Apalagi usaha-usaha yang bertalian dengan sektor pariwisata, keadaannya sudah berakhir. Para pengusaha di Japnas sebetulnya sudah memproyeksi terjadinya gelombang kedua penularan corona ini.

Iklan

Prediksinya  sejak India kewalahan menangani kasus Covid-19 yang tertinggi di dunia. Sudah diduga, variannya akan masuk Indonesia karena pemerintah tidak melakukan lockdown langsung. Lalu lalang angkutan udara dari luar negeri masih diperbolehkan. Kendati pemerintah mensyaratkan orang-orang yang masuk ke Indonesia dengan beberapa ketentuan.

Misalnya, bebas Covid-19 yang dtunjukkan dengan hasil PCR. Siap menurut Ariana, yang bisa menjamin hasil PCRnya asli. Jikapun asli, siapa yang bisa menjamin beberapa jam setelah keluar dari laboratorium tidak terjadi potensi penularan. “Benar hasil PCR ada. Tapi begitu keluar nerima hasil, bisa jadi kita belanja ke supermarket, bertemu dengan orang lain. Kemudian melakukan perjalanan. Ada yang bisa menjamin tidak ada virus Covid-19 dibawa,” katanya.

Belajar dari India juga yang mengawasi penerapan protokol Covid-19 sangat ketat. Bahkan video-video petugas menertibkan masyarakatnya dengan rotan. Itupun, India masih kebobolan. Apalagi Indonesia yang dianggap masih longgar. Sekarang gelombang kedua terjadi. Gelombang pertama serangan virus corona beberapa waktu lalu rupanya bukan akhir.

Melihat fenomena yang terjadi sekarang, Owner Arianz Hotel ini  memperkirakan dampaknya akan panjang. Bahkah bertahun-tahun. Pemerintah juga sudah melakukan upaya mati-matian memerangi corona. Sangat dilema menanganinya. Antara mempertimbangkan keselamatan dari aspek kesehatan, dan aspek ekonomi.

“Disatu sisi pemerintah membatasi aktivitas di luar rumah. Disisi lain, ekonomi harus jalan. Ibaratnya, mana duluan telur atau ayam di tengah kondisi sekarang. Dampak ekonominya dahsyat, melebihi dampak gempa Lombok tahun 2018,” katanya. Dunia usaha berusaha bertahan, semampunya. Pemerintah juga menurutnya harus memberikan kebijakan panjang. Yaitu memberikan kelonggaran kepada para nasabah untuk menunda kembali pembayaran kewajibannya di bank.

“Pemerintah memberlakukan PPKM Darurat. Gerak orang dibatasi. Gerak usaha dibatasi. Dari mana uangnya bisa berputar. Seperti sebelumnya, kita harapkan pemerintah memberikan kelonggaran kewajibannya di bank. Karena ini kondisinya force majeure. Pengusaha ini rata-rata menggunakan dana bank. Kalau pemerintah masih mau melihat pengusaha ini bisa bertahan, harus ada kebijakan perbankan yang memaklumi keadaan sekarang,” demikian Ariana. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional