Kasus Covid-19 Melandai, Pemkot Hentikan Perawatan Pasien di Hotel

Hotel Nutana di Jalan Airlangga yang sebelumnya dijadikan sebagai tempat isolasi terpusat pasien covid-19, kini tidak lagi digunakan pemkot, karena jumlah kasus Covid-19 mulai melandai. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Penyebaran kasus coronavirus disease atau Covid-19 di Kota Mataram mulai melandai. Dua hotel darurat yang digunakan sebagai isolasi terpusat ditutup. Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) ditargetkan turun menjadi level I.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Mataram, Drs. I Nyoman Suwandiasa menerangkan, berdasarkan rilis jumlah kasus yang diterbitkan Satgas Covid-19 Provinsi NTB, bahwa jumlah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 hanya satu pasien dan jumlah kasus harian sangat kecil. Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran virus corona mulai melandai. “Kita bersyukur jumlah kasus setiap harinya melandai,” kata Nyoman ditemui di ruang kerjanya, Senin, 4 Oktober 2021.

Iklan

Parameter lainnya adalah jumlah keterisian kamar di rumah sakit, fatality rate serta indikator lainnya juga turun. Selain itu, dari 325 lingkungan hampir 90 persen masuk kategori zona hijau. Sisanya zona kuning dan orange.

Pihaknya optimis bahwa evaluasi penerapan PPKM level II pada tanggal 6 Oktober (Rabu besok, red), Kota Mataram bisa turun dilevel I.

Disamping itu Nyoman juga menyebutkan, dua hotel yakni Hotel Nutana di Jalan Airlangga dan Hotel Fizz di Jalan Majapahit yang digunakan sebagai isolasi terpusat pasien Covid-19 ditutup. Penutupan ini karena tidak ada warga yang menjalani isolasi. “Karena tidak ada yang dirawat ditutup, supaya tidak terkesan pemborosan anggaran,” jelasnya.

Dinamika perkembangan kasus Covid-19 tetap dipantau. Karena itu, masyarakat diminta tetap mentaati protokol kesehatan serta mengikuti program vaksinasi yang sedang digencarkan pemerintah maupun TNI – Polri.

Kebijakan kepala daerah meskipun telah ditetapkan PPKM level II, tetapi pengawasan terhadap prokes selayaknya PPKM level III. Pemerintah tidak mau kelalaian masyarakat mengikuti prokes justru terjadi lonjakan kasus. Meskipun dipahami, masyarakat mulai jenuh menjalani aktivitas sosial di tengah pandemi.

“Stigma bahwa pandemi ini belum berakhir tetap diingatkan kepada masyarakat. Apalagi berkembang isu penyebaran Covid-19 gelombang ketiga pada akhir tahun perlu juga diantisipasi,” demikian kata Nyoman. (cem)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional