Kasus Covid-19 Masih Tinggi, LEM Batal Fasilitasi Salat Ied

Parkiran timur Lombok Epicentrum Mall yang dicanangkan sebagai lokasi salat ied 1442 Hijriyah. Lokasi tersebut dapat menampung hingga 4.000 orang jamaah. Namun melihat jumlah kasus positif Covid-19 yang masih tinggi di Kota Mataram, manajemen LEM membatalkan rencana tersebut untuk menghindari potensi penularan virus. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Perkembangan kasus penularan Covid-19 di Kota Mataram disebut perlu menjadi perhatian bersama. Terutama menjelang Idul Fitri 1442 Hijriah yang setiap tahunnya sering menjadi ajang berkumpul, termasuk dalam pelaksanaan salat ied berjamaah.

Melihat kondisi tersebut, Lombok Epicentrum Mall (LEM) yang sebelumnya bersiap memfasilitasi penyelenggaraan salat ied kembali mengevaluasi rencana kegiatan tersebut. Mengingat penyelenggaraan salat ied hanya dibolehkan di zona kuning dan hijau pandemi.

Iklan

“Kita sudah punya semangat yang sama dengan teman-teman di Lingkungan Taman Indah dan beberapa lingkungan lainnya. Tapi dengan perkembangan kasus (Covid-19) terakhir sesuai peraturan dari Satgas Covid-19 tentang yang boleh melaksanakan (salat ied) hanya yang zona kuning dan hijau, kita menahan diri dulu untuk melaksanakan salat ied tahun ini,” ujar General Manager LEM, Salim Abdad saat memberikan keterangan, Jumat, 7 Mei 2021.

Hal tersebut cukup disayangkan pihaknya. Mengingat LEM bersama-sama dengan Kepala Lingkungan yang ada di sekitar pusat perbelanjaan tersebut telah mengurus dan mendapatkan izin dari Satgas Covid-19 Kota Mataram.

Dalam pengajuan izin tersebut LEM menyediakan lokasi salat ied berjamaah di parkiran timur dengan kapasitas jamaah mencapai 4.000 orang. Untuk mengantisipasi penularan Covid-19 protokol kesehatan ketat juga disiapkan oleh manajemen LEM.

“Sayangnya tahun ini kita harus batalkan dulu rencana itu. Jadi seperti tahun sebelumnya, di LEM tidak melaksanakan salat ied berjamaah. Semoga keputusan ini tidak mengecewakan, karena kita melihat juga kepentingan dan kemaslahatan umum yang lebih luas,” jelas Salim.

Di sisi lain, pihaknya bersama Kepala Lingkungan di sekitar LEM telah bersepakat untuk mengkonsentrasikan pelaksanaan salat ied tersebut di masing-masing masjid di setiap lingkungan. “Karena ada ketakutan kita juga ketika diadakan di LEM masyarakat bisa datang dari mana saja. Kalau di masjid di setiap lingkungan insyaallah bisa dibatasi dengan prokes,” ujarnya.

Introspeksi yang dilakukan manajemen LEM diharapkannya dapat menjadi contoh bagi pihak lainnya yang berniat mengadakan salat ied berjamaah. Terutama untuk mengantisipasi bertambahnya kasus penularan Covid-19.

“Karena kita khawatir juga melihat perkembangan kasusnya. Supaya jangan seperti di India. Karena itu kita melakukan introspeksi, supaya jangan sampai ketika salat ied dilakukan di LEM, di tempat lain juga ikut mengadakan tanpa prokes yang ketat,” ujar Salim.

Secara umum, pihaknya sangat siap menerapkan prokes ketat dalam setiap kegiatan, termasuk untuk pelaksanaan salat ied. Namun gambaran lebih besar terkait potensi-potensi penularan Covid-19 menurut Salim tetap perlu diwaspadai.

“Dengan kami di sini melakukan evaluasi, mungkin di tempat-tempat lain juga bisa melakukan evaluasi yang sama. Terlebih jika pelaksanaan protokolnya belum bisa terjamin,” tandas Salim. (bay)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional