Kasus BPR Loteng, Jaksa Segera Tetapkan Tersangka

Otto Sompotan (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Jaksa penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Lombok Tengah (Loteng) telah mengumpulkan minimal dua alat bukti dalam kasus dugaan kredit fiktif di BPR NTB Cabang Loteng. Kejari Loteng pun menargetkan segera menetapkan tersangka dalam tahun ini juga.

Demikian diungkapkan Kepala Kejari Loteng, Otto Sompotan, S.H., kepada wartawan, Kamis, 15 Oktober 2020.

Iklan

Soal gambaran calon tersangka, pihaknya sudah ada gambaran.  Hanya saja, berapa orang tersangka belum bisa dipastikan. Mengingat proses penyidikan hingga saat ini masih terus berjalan. “Berapa tersangka belum bisa kita sampaikan. Tapi yang jelas, melihat proses yang sudah berjalan sejauh ini tahun ini kita sudah melakukan penetapan tersangka,” terangnya.

Ia menjelaskan, saat ini pihak terus mengumpulkan data dan keterangan guna memperkuat alat bukti terkait kasus tersebut. Pihaknya juga tengah melakukan rekonstruksi, untuk melihat peran dan posisi masing-masing pihak dalam kasus tersebut. Yang nantinya bisa menjadi dasar dalam penentuan tersangka. “Untuk sanksi total sudah sekitar 30 orang yang sudah dimintai keterangan,” imbuhnya.

Diakuinya, tidak menutup kemungkinan dari saksi-saksi yang ada tersebut akan ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Karena bisa saja dari saksi-saksi itu merupakan pihak yang bertanggung jawab dalam kasus tersebut.

Disinggung dugaan pencatutan nama anggota kepolisian kasus tersebut, Otto menegaskan itu juga bagian yang diselidiki, karena kasus tersebut merupakan kasus kredit fiktif, maka bisa saja ada lembaga tertentu yang dimanfaatnya. “Ini juga sedang kita dalami,” ujarnya.

Terkait nilai kerugian yang timbul, Otto mengaku belum bisa dipastikan. Karena itu nanti ada proses audit tersendiri oleh lembaga berwenang, baik itu BPK, BPKP maupun auditor independen. Bahkan, jaksa juga bisa melakukan audit sendiri jika bisa mempertanggungjawabkan hasil audit tersebut.

“Tapi gambaran awalnya kerugian negara sekitar Rp 2 miliar. Dilihat dari nilai kredit macet yang terjadi. Tetapi masih ada kemungkinan bertambah hingga bisa mencapai sekitar Rp 4 miliar,” tandasnya. (kir)