Kasus Benih Jagung 2017, Mantan Kadistanbun Provinsi NTB Husnul Fauzi Diperiksa sebagai Tersangka

Mantan Kadis Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Husnul Fauzi berjalan memasuki gedung Kantor Kejati NTB, Kamis, 1 April 2021. Husnul menjalani pemeriksaan sebagai tersangka kasus pengadaan benih jagung tahun 2017.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Kejati NTB memanggil mantan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Provinsi NTB Husnul Fauzi, Kamis, 1 April 2021. Husnul diperiksa sebagai tersangka kasus pengadaan benih jagung tahun 2017 senilai Rp48,25 miliar.

Husnul datang dengan setelan kemeja putih dan celana hitam sekitar pukul 10.00 Wita. Dia ditemani penasihat hukumnya. Selanjutnya Husnul menuju lantai III Kantor Kejati NTB, ke ruangan Bidang Pidana Khusus.

Iklan

Juru Bicara Kejati NTB, Dedi Irawan mengonfirmasi pemeriksaan tersebut. Namun dia enggan membeberkan materi pemeriksaan. Dedi menyebutkan pemeriksaan menjadi wewenang penyidik. “Dia diperiksa untuk pertama kali sebagai tersangka,” ucapnya.

Tersangka Husnul diduga berperan sebagai pengatur jalannya proyek. Husnul disebut memengaruhi Unit Layanan Pengadaan (ULP) dalam proses penunjukkan langsung rekanan pelaksana pengadaan benih jagung tahun 2017.

Sementara dalam proses pelaksanaannya, Husnul memengaruhi pejabat pembuat komitmen berinisial IWW. Benih yang disalurkan diduga rusak. Benih tersebut tidak memiliki sertifkat Balitbang seperti disyaratkan dalam kontrak. Namun, proyek ini tetap dibayar tuntas.

Dari hasil audit BPK RI, pengadaan tahap pertama yang dikerjakan PT SAM temuan kerugian negara mencapai Rp7 miliar. Kemudian temuan kerugian negara Rp4 miliar dari pengadaan tahap kedua yang dikerjakan PT WBS. Sementara dari hitungan internal jaksa, kerugian negaranya mencapai Rp15,4 miliar.

Dalam kasus pengadaan benih jagung tahun 2017 ini, Kejati NTB menetapkan tiga tersangka lain, yakni pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek, IWW; Direktur PT SAM, AP; dan Direktur PT WBS, LIH.

PT SAM mengerjakan proyek pengadaan senilai Rp17,25 miliar untuk pengadaan 480 ton benih. Sementara PT WBS yang dikendalikan tersangka LIH memperoleh proyek Rp31 miliar untuk pengadaan 840 ton benih. (why)

Advertisement filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional