Kasus Benih Jagung 2017, Kejati NTB Praekspose Penetapan Tersangka

Dedi Irawan. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Tim jaksa penyidik Pidsus Kejati NTB menggelar praeskpose penetapan tersangka kasus dugaan korupsi proyek pengadaan benih jagung tahun 2017. Ekspose ini untuk mendalami alat bukti yang sudah dimiliki jaksa penyidik. Dalam hal dasar penetapan tersangkanya.

“Kita sudah ekspose kemarin, kita masih perlu pendalaman lagi terhadap alat-alat bukti,” ungkap Juru Bicara Kejati NTB Dedi Irawan dikonfirmasi Kamis, 7 Januari 2021. Ekspose tersebut, sambung dia, menghasilkan kesimpulan bahwa tim penyidik memerlukan penajaman alat bukti lagi. Meskipun, sekurangnya dua alat bukti sudah ditemukan sebelumnya. Dua alat bukti ini dijadikan dasar menaikkan status penanganan kasus ke tahap penyidikan.

“Terhadap alat bukti ini, terlebih dahulu akan ditindaklanjuti dengan pengumpulan barang bukti. Bisa saja melalui penggeledahan dan penyitaan,” kata Dedi. Pengadaan benih jagung tahun 2017 digelontorkan dengan anggaran senilai Rp29 miliar. pengadaannya dalam dua tahap. Pengadaan tahap pertama dikerjakan PT SAM dengan nilai kontrak Rp17 miliar. sementara PT WBS mengerjakan pengadaan tahap dua dengan kontrak senilai Rp12 miliar.

Benih yang digelontorkan kepada kelompok tani diduga tidak sesuai spesifikasi. Kejagung menemukan indikasi benih bersertifikat namun tidak memenuhi syarat teknis. 198 ton benih diduga oplosan. Proyek ini kemudian menjadi temuan BPK RI. Dari tahap pertama temuan kerugian negara diduga mencapai Rp7 miliar. kemudian dari pengadaan tahap kedua sebesar Rp4 miliar.

Penyidikan kasus ini menemukan indikasi korupsi sesuai dijelaskan pasal 2 dan atau pasal 3 UU RI No20/2001 tentang perubahan atas UU RI No31/1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Calon tersangkanya diduga lebih dari satu orang sehingga disematkan pasal 55 ayat 1 k-1 KUHP. (why)