Kasus Benih Jagung 2017, Kejati NTB Kirim Penyidik Periksa Produsen Benih

Dedi Irawan. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Kejati NTB melanjutkan pemeriksaan saksi kasus pengadaan benih jagung tahun 2017. Tim penyidik sekaligus menelusuri gudang dan kantor produsen benih jagung di Jawa Timur. Dalam kasus ini, benih diduga dioplos plus sertifikat bodong.

“Sudah satu minggu kemarin pemeriksaan. tim penyidik melakukan pemeriksaan lapangan,” terang Juru Bicara Kejati NTB Dedi Irawan dikonfirmasi Minggu, 7 Maret 2021. Satu tim penyidik Bidang Pidsus diberangkatkan. Kegiatannya memeriksa saksi, dokumen, serta kondisi tempat produksi benih. Selanjutnya, dalam agenda terpisah tim penyidik juga memeriksa sertifikasi benih.

Iklan

“Termasuk juga ke Balai Sertifikasi Benih Jawa Timur. Penelusurannya terkait dengan barang bukti,” sebut Dedi. Proyek pengadaan benih jagung tahun 2017 senilai Rp49,25 miliar dikerjakan dua rekanan yang diduga pesanan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi (Distanbun) NTB HHF. HHF sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Perannya diduga mengkondisikan penunjukkan langsung PT SAM dan PT WBS yang mendapat kontrak pengadaan benih tersebut. masing-masing 480 ton untuk PT SAM dan 840 ton untuk PT WBS. Dalam pelaksanaannya, pejabat pembuat komitmen berinisial IWW melancarkan proses pengadaan, penyaluran, dan dugaan manipulasi pertanggungjawaban. IWW saat itu bertugas di bawah perintah tersangka HHF.

Pengkondisian tersebut membuat PT SAM mendapat kontrak pengadaan senilai Rp17 miliar. Sementara PT WBS Rp31 miliar. Benih yang disalurkan rekanan pelaksana ini ternyata tidak sesuai dengan spesifikasi. Benih diduga dioplos dengan jagung konsumsi. Direktur PT SAM berinisial AP dan Direktur PT WBS berinisial LIH turut ditetapkan sebagai tersangka. Berdasarkan taksiran penyidik, kerugian negara dalam kasus ini mencapa Rp15,4 miliar. (why)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional