Kasus Benih Jagung 2017, Husnul Fauzi Diperiksa Lagi

Mantan Kadistanbun Provinsi NTB Husnul Fauzi duduk termangu di dalam mobil tahanan Kejati NTB Senin, 19 April 2021. Husnul menjalani pemeriksaan tambahan sebagai tersangka kasus pengadaan benih jagung tahun 2017.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Mantan Kadis Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB Husnul Fauzi diperiksa lagi, Senin, 19 April 2021. Pemeriksaan ini berkaitan dengan perannya sebagai tersangka kasus pengadaan benih jagung tahun 2017. Husnul diduga sebagai pengatur keseluruhan proyek senilai Rp48 miliar ini.

Husnul dijemput dari Rutan Polda NTB -tempatnya ditahan sebagai tahanan titipan jaksa- pada pagi sekira pukul 09.00 Wita. Husnul lalu dibawa ke ruang pemeriksaan Pidsus Kejati NTB. Pemeriksaannya baru selesai pukul 15.00 Wita. “Ini pemeriksaan lanjutan dari pemeriksaan pertama sebelumnya,” ungkap Juru Bicara Kejati NTB Dedi Irawan dikonfirmasi mengenai pemeriksaan tersebut.

Iklan

Dia mengatakan, Husnul dalam proyek pengadaan itu bertindak selaku Kuasa Pengguna Anggaran. Dia membawahi pejabat pembuat komitmen. “Diperiksa terkait peran-perannya. Masih banyak materi pemeriksaan yang harus diungkap lagi,” imbuh Dedi. Dari hasil penyidikan sementara Husnul berperan merekomendasikan PT SAM dan PT WBS sebagai rekanan pelaksana proyek pengadaan benih jagung tahun 2017 senilai Rp48,25 miliar.

PT SAM mendapat kontrak Rp17,25 miliar. Sementara PT WBS Rp31 miliar. PT SAM mendapat penugasan dari Distanbun Provinsi NTB untuk pengadaan 480 ton benih jagung. Sementara PT WBS mendapat kontrak pengadaan 840 ton benih jagung. Sementara dalam pelaksanaannya, benih yang disalurkan ini tidak sesuai spesifikasi. Benih ditemukan rusak dan berjamur. Selain itu, benih yang ditanam tidak dapat tumbuh. Benih ini terindikasi oplosan dan dipasangkan label yang tidak sesuai sertifikat.

Selain Husnul, ditetapkan pula tiga tersangka lain. Yakni pejabat pembuat komitmen I Wayan Wikanaya; Direktur PT WBS Lalu Ikhwan; dan Direktur PT SAM Aryanto Prametu. “Untuk tersangka lain akan dijadwalkan pemeriksaannya. Sementara tersangka yang belum hadir, kita sudah layangkan panggilan ketiga,” kata Dedi.

Tersangka Aryanto sudah dua kali tidak memenuhi panggilan pemeriksaan sebagai tersangka. Alasannya sama, positif Covid-19. “Jika pada panggilan ketiga tetap tidak daatang. Walaupun nanti alasannya Covid-19, penyidik tetap akan menjemput paksa dan akan melaksanakan tes Covid-19 di rumah sakit yang ditunjuk penyidik,” pungkas Dedi. (why)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional