Karyawan Banyak Stres, Gubernur Berikan Diskresi Khusus Kepala Dispar NTB

Salah seorang pegawai Dispar NTB saat menyampaikan keluhan di depan Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah pada acara Jumpa Bang Zul dan Ummi Rohmi, Jumat, 23 November 2018. (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc memberikan diskresi khusus kepada Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB, H. L. Moh Faozal, S. Sos, M. Si. Diskresi khusus tersebut diberikan karena banyak pegawai Dispar NTB yang stres atau tak bahagia.

Menurut gubernur, sektor pariwisata menjadi andalan pemulihan dan peningkatan ekonomi NTB pascabencana gempa.  Itulah sebabnya, kegiatan Jumpa Bang Zul dan Ummi Rohmi, diadakan di Dispar NTB.

Iklan

“Kami mengadakan di tempat ini bukan tanpa maksud. Kenapa? Karena setelah bencana, kita tentu punya banyak pekerjaan, cita-cita yang menunggu. Tapi pilihan kita terbatas,” kata gubernur, Jumat, 23 November 2018.

Saat ini, Pemprov sedang berkonsentrasi pada rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Supaya ketika musim hujan tiba, masyarakat korban gempa tidak lagi berada di bawah tenda. Dengan mempercepat pembangunan hunian sementara maupun hunian tetap.

Namun pada saat yang sama, pemulihan ekonomi masyarakat juga menjadi perhatian. Ekonomi NTB dengan sektor tambang yang stagnan masih lesu bahkan diprediksi sampai tahun depan.

Oleh karena itu,  mesti diakselerasi oleh sektor lain yang bisa menarik perekonomian dan pertumbuhan ekonomi NTB  menjadi yang baik, yaitu sektor pariwisata. Gubernur mengatakan sangat disayangkan ketika Pemprov NTB memprioritaskan sektor pariwisata, masih ada pegawai Dispar yang tak bahagia atau stres.

‘’Nggak mungkin kita akan mendistribusikan harapan kesenangan kepada orang lain, kalau mereka tidak bahagia. Dan penyebab ketidakbahagiaan karena kebanyakan karyawan di sini tidak pernah diajak berwisata oleh atasannya,’’ kata gubernur.

Jangan sampai, kata gubernur, pegawai Dispar terus berusaha  menyenangkan turis, tetapi mereka (pegawai)  sendiri tak pernah melihat atau berkunjung ke destinasi wisata yang ada seperti  Mandalika.

‘’Jadi program saya akhir tahun khusus Dinas Pariwisata, seluruh karyawannya merayakan tahun baru di tempat indah-indah di daerah kita,’’ kata gubernur.

Dengan acara-acara seperti itu, diharapkan sesama pegawai Dispar semakin bahagia dan tak stres lagi. Menurut gubernur, Kepala Dispar punya tanggung jawab yang besar untuk membahagiakan pegawaianya.

‘’Saya beri diskresi khusus kepada Dinas Pariwisata. Nampaknya masalah di Dinas Pariwisata ini sudah ketemu akarnya. Karyawan-karyawan Dinas Pariwisata butuh trauma healing. Saya pikir acara-acara informal diperbanyak,’’ saran gubernur.

Dr. Zul mengatakan, kondisi seperti ini bukan hanya terjadi di Dispar NTB. Tetapi juga di OPD lainnya lingkup Pemprov NTB. Gubernur mengaku sudah lama mengenal Kepala Dispar NTB, yang punya banyak teman di pusat. ‘’Mudah-mudahan bisa menjadi bapak yang baik bagi kita semua,’’ harapnya.

Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah yang hadir pada kesempatan tersebut menekankan perlunya keterbukaan dalam suatu organisasi atau OPD. Sehingga semua saling dukung, bahu membahu mencapai target-target pembangunan ke depan.

‘’Keterbukaan itu yang paling penting. Supaya ke depannya tak ada stres yang berat di Dinas Pariwisata. Karena  ke depan lebih banyak lagi pekerjaan kita,’’ ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Seksi Produk Pariwisata Dispar NTB, Siti Alfiah membenarkan bahwa kondisi para pegawai Dispar dalam kondisi tak bahagia atau stres. Kondisi tersebut disebabkan banyaknya event-event yang digelar sepanjang tahun. Ia menyebutkan, tiap tahun event pariwisata yang digelar Dispar sekitar 32 event.

‘’Bisa dibayangkan kami bekerja maraton. Belum lagi kami harus berhadapan dengan 100 kelompok sadar wisata yang harus kami hadapai permasalahnnya beragam,’’ katanya.

Selain itu, pegawai Dispar juga  mendapatkan tugas lain yang tak kalah membebani pekerjaan. Seperti di Bidang Destinasi, harus ikut dalam program lain seperti Geopark Rinjani dan Geopark Tambora yang cukup menguras energi.

‘’SDM kami di Dinas Pariwisata sangat terbatas. Yang bekerja dengan keilmuan, keahlian khusus itu masih kurang. Mungkin kami agak tertekan, banyak konflik di sini. Karena tekanan pekerjaan semata,’’ katanya.

Diharapkan dengan pemberian diskresi khusus, dapat mengurangi stres pegawai Dispar NTB. ‘’Tekanan pekerjaan seperti itu mungkin memerlukan trauma healing khusus. Karena saat bencana kami turun ke lapangan, seperti menyeberang ke Gili Trawangan, naik ke Sembalun dan Senaru,’’ tandasnya. (nas)