Kapolsek Ampenan Amankan Empat Jerigen Tuak

Mataram (suarantb.com) – Upaya meminimalisir penyakit masyarakat menjadi atensi Polsek Ampenan Kota Mataram. Tidak terkecuali dengan minuman keras tradisional berjenis tuak, turut menjadi atensi untuk diminimalisir demi kondusivitas masyarakat Ampenan.

Mencegah maraknya peredaran tuak di Kawasan Ampenan, Kapolsek Ampenan, Kompol Raden Djoko Amin melakukan penangkapan terhadap seseorang yang diduga hendak mendistribusikan tuak. Penangkapan dilakukan di Jalan Industri, Lingkungan Taman Kapitan, Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Ampenan. Selasa, 13 September 2016.

Iklan

Alhasil, empat jerigen tuak yang berisi sekitar 100 liter tuak berhasil diamankan dari seorang yang berinisial INW (35) asal Kecamatan Lingsar, Lombok Barat. Kapolsek seorang diri membuntuti pengendara motor jenis Supra X ini, yang membawa empat jerigen berisikan tuak di atas motornya.

“INW ini berjalan dari jalan Majapahit. Saya buntuti hingga ke Lingkungan Taman Kapitan. Begitu memastikan yang dibawa adalah tuak, maka saya lakukan pencegatan. Setelah diperiksa, tuak tersebut tanpa ada izin menguasainya. Hal ini bertentangan dengan Perda tentang Miras,” ujarnya.

3 (1)

Kapolsek Ampenan, Kompol Raden Djoko Amin (suarantb.com/szr)

Kendati demikian, Kapolsek mengatakan kasus tersebut merupakan tindak pidana ringan (Tipiring) karena melanggar ketentuan Perda tentang Miras. Namun, bukan menjadi alasan peredaran tuak menjadi hal yang wajar.

“Moto daerah kita salah satunya adalah religius. Meskipun kasus ini adalah Tipiring, namun kita tetap berupaya mengurangi peredarannya. Hal ini semata untuk menjaga kondusivitas masyarakat dari pengaruh minuman beralkohol ini,” tuturnya.

Kapolsek juga menyarankan agar pemerintah dapat berperan aktif dalam meminimalisir peredaran tuak di Pulau Lombok pada umumnya. Dengan cara menyiapkan regulasi untuk mengarahkan pedagang tuak berpindah profesi.

“Saya pernah menyampaikan saran ke Walikota, supaya orang yang berjualan (tuak) bisa diberikan pekerjaan baru, contoh diarahkan untuk membuat kuliner atau gula (aren) dengan modal dari pemerintah. Setelah itu tetap dipantau. Produk masyarakat itu bisa ditampung pemerintah dan dijual ke luar daerah kan harganya tinggi,”ujarnya. (szr)