Kapasitas Ruang Perawatan Intensif Semakin Menipis

Ilustrasi ruang isolasi pasien dengan virus corona. (ant/bali post)

Mataram (Suara NTB) – Jumlah kasus gejala berat untuk pasien virus Corona (Covid-19) di NTB tercatat mencapai 7 persen. Pasien-pasien tersebut antara lain tersebar di Kota Mataram dan Lombok Barat yang sampai saat ini masih menjadi wilayah dengan angka penularan tertinggi di NTB.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, menerangkan persentase kasus berat tersebut belakangan mempengaruhi kapasitas ruang rawat intensif. Di mana jumlah pasien dengan gejala cukup berat melampaui jumlah ruang rawat yang dipersiapkan di Kota Mataram dan Lombok Barat.

Iklan

Kalau kita secara keseluruhan di NTB cukup. Cuma untuk Kota Mataram dan Lombok Barat karena jumlah kasusnya naik terus (ruang rawat) itu jadi kurang, ujar Eka saat dikonfirmasi, Minggu, 19 Juli 2020 di Mataram. Untuk menanggulangi hal tersebut, pihaknya akan segera menambah dua rumah sakit darurat dan mengubah pola rujukan pasien Covid-19.

Pengoperasian rumah sakit darurat dan penerapan pola rujukan baru tersebut ditargetkan terlaksana paling lambat minggu depan. Kita menambah rumah sakit darurat ada yang di Wisma Tambora dan di Seganteng. Sistemnya juga penjenjangan pasien kita ubah. Karena sekarang pasien berat itu mulai banyak. Tadinya 5 persen, sekarang 7 persen, sebut Eka.

Diterangkan, perawatan pasien dengan gejala berat saat ini akan dikonsentrasikan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) NTB. Sedangkan untuk pasien dengan gejala sedang akan dikonsentrasikan di Rumah Sakit Darurat Asrama Haji, dan pasien gejalan ringan akan dikonsentrasikan di dua rumah sakit darurat yang akan difungsikan nanti.

Di sisi lain, secara umum Eka menekankan bahwa kapasitas ruang rawat untuk pasien Covid-19 di NTB sangat mencukupi, yaitu mencapai sekitar 1.000 tempat tidur. Kendati demikian, peningkatan kasus dengan gejala berat yang terjadi di Kota Mataram dan Lobar membuat kapasitas ruang rawat di dua wilayah tersebut tidak seimbang.

Kalau kita sekarang ada 529 yang masih dirawat, total tempat tidur kita hampir 1000. Cuma dari 529 itu terbanyak di Kota Mataram dan Lobar, sedangkan jumlah tempat tidur dibanding jumlah pasien masih kurang sedikit, sebutnya.

Selain memiliki gejala berat, perawatan pasien di Kota Mataram dan Lobar juga membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh. Masa rawatnya di Mataram dan Lobar ini jauh lebih lama, karena banyak yang berat, sambungnya.

Selain itu, pihaknya juga mulai menarik peralatan untuk perawatan intensif dari wilayah dengan dominasi kasus gejala ringan. Dicontohkan Eka seperti penarikan ventilator yang sebelumnya dioperasikan di Rumah Sakit Manambai Abdulkadir untuk memenuhi kebutuhan di Kota Mataram.

Menurut Eka, meningkatnya kasus Covid-19 dengan gejala berat di NTB saat ini merupakan bukti bahwa transmisi virus masih terjadi dan meluas. Mengingat pasien-pasien tersebut merupakan orang dengan risiko tinggi yang sebelumnya menjadi atensi pemerintah agar tidak tertular.

Memang begitu. Orang itu kalau kita abai, proses penularan berjalan kena dengan orang-orang risiko tinggi, jelasnya. Sebagian pasien gejala berat yang dirawat saat ini merupakan lansia dengan penyakit komorbid.

Tanpa sinergi antara masyarakat dan pemerintah, jumlah tersebut dikhawatirkan terus meningkat dan memperbesar risiko kematian pasien di NTB. Kita angka kematian juga 5,2 persen, naik 0,1 persen. Kita dari kapan itu di awal 1,2 persen, tapi satu bulan terakhir 4 persen naik ke 5 persen dan bertahan di situ. Semoga ini tidak naik lagi, harapnya. (bay)