Kampung Adat Sade, Simbol Identitas Suku Sasak Lombok Tengah

Praya ( Suara NTB) –  Selain kaya akan potensi wisata bahari dan wisata alam, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) juga cukup dikenal memiliki potensi wisata budaya. Salah satunya, kampung adat Sade, Desa Rembitan, Pujut. Dikatakan kampung adat, karena di kampung inilah orisinalitas adat istiadat Suku Sasak Loteng, masih bisa ditemukan. Setidaknya dalam hal seni bangunan.

Kampung Sade berada di dataran tinggi. Di area dengan luas sekitar lima hektar lebih tersebut, kini masih berdiri sekitar 170 rumah adat asli masyarakat suku Sasak Loteng. Beberapa diantaranya sudah memperoleh sentuhan modern. Namun tetap menunjukkan identitas rumah adat suku Sasak.

Iklan

Selain kampung Sade, masih ada beberapa kampung adat lainnya di wilayah sekitarnya. Tetapi hanya kampung adat Sade yang memiliki komunitas terbesar. Dengan penghuni  sekitar 700 jiwa di dalamnya.

Masyarakat kampung Sade memang dikenal sebagai masyarakat yang sangat fanatik dalam menjaga keaslian adat istiadat yang diwarisi para leluhurnya. Terutama dalam hal bangunan. Di mana, bentuk dan bahan bangunan yang digunakan masyarakat setempat, hampir sama. Dindingnya berupa bedek (pagar dari bambu) dan beratapkan anyaman ilalang.

Lantai rumah rata-rata juga masih menggunakan tanah. Dengan dilapisi kotoran sapi atau kerbau. Terkesan kotor memang. Tapi dengan teknik yang sudah diwarisi turun temurun, lapisan kotoran sapi atau kerbau tersebut mampu disulap menjadi lantai yang higienies. Dan, tidak kalah mengkilap dari lantai keramik atau sejenisnya.

Penggunaan kotoran sapi atau kerbau tersebut, bukan tanpa sebab. Pasalnya, keberatan kotoran sapi atau kerbau sebagai lapisan lantai tersebut mampu menciptakan efek nyaman di dalam rumah. Karena ketika musim dingin, lapisan tersebut bisa menghasilkan hawa hangat. Sebaliknya, ketika musim panas, lapisan kotoran sapi atau kebau itu mengeluarkan hawa dingin. Sehingga siapapun yang berada di dalam rumah, bisa tetap merasakan kenyamanan. Dalam kondisi dan cuaca yang berbeda.

Di dalam kampung adat juga masih terdapat bangunan pendukung lainnya. Seperti lumbung yang dijadikan sebagai gudang, tempat menyimpan hasil panen dan sebagainya. Juga ada berugak hampir di setiap rumah warga. Bahkan, warga kampung memiliki satu berugak berukuran besar yang terdapat di dekat pintu masuk perkampungan.

Berugak besar tersebut, salah satunya berfungsi sebagai tempat menggelar musyawarah. Dan, di bagian pinggir perkampungan juga masih berdiri kokoh masjid kuno Sade. Di bagian dalam perkampungan, suasana tradisional juga masih begitu kental. Di mana dalam kesehariannya, warga setempat menjalankan berbagai kegiatan.

Khusus untuk yang laki-laki,rata-rata bekerja di sawah. Kemudian para ibu-ibu, lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Mengerjakan semua pekerjaan rumah. Diselingi kegiatan menenun dan membuat kerajinan. Juga dengan menggunakan peralatan yang masih sangat tradisional. Hasilnya, kemudian dijual kepada wisatawan yang datang berkunjung.

11---2

Berugak Beleq di Kampung Adat Sade (Suara NTB/kir)

“Banyaknya wisatawan yang datang, secara tidak langsung memberikan berkah tersendiri bagi kita warga Sade,” aku warga setempat. Karena dari hasil menjual kain tenun dan kerajinan tangan itulah, warga bisa menutupi kebutuhan sehari-hari. Sehingga warga tidak hanya tergantung dari hasil pertanian saja.

Selain dalam hal bangunan, masyarakat adat Sade juga masih cukup kuat memegang adat istiadat. Salah satunya terkait budaya Merariq (menikah). Di mana warga Sade biasanya hanya menikah dengan sesama warga setempat yang masih memiliki hubungan kekerabatan.

11 - 3

Papan ucapan selamat datang ke wilayah Kampung Adat Sade (Suara NTB/kir)

Memang menikah dengan orang luar, tidak dilarang. Tapi ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Terutama kalau pengantin prianya berasal dari luar Sade. Dimana pengantin prianya harus menyiapkan maskawin dalam jumlah cukup besar. Untuk bisa mempersunting gadis asal Sade. Biasanya berupa sapi atau kerbau, minimal dua ekor. Ditambah beberapa persyaratan lainnya.

“Tidak mudah memang mempertahankan apa yang menjadi warisan leluhur. Tapi dengan tekad yang kuat, kita akan terus berusaha,” tandas warga.

Otoritas Sendiri

Sebagai upaya mendukung pelestarian adat istiadat di kampung Sade, sejak beberapa tahun yang lalu Pemkab Loteng, telah menetapkan kampung Sade sebagai kampung adat. Dengan begitu, pemerintah daerah memberikan otoritas sendiri bagi warga kampung Sade untuk mengatur pola dan tata kehidupan sesuai adat istiadat yang ada.

“Pemerintah daerah sudah berikan otoritas warga kampung Sade,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Loteng, H. L. Putria beberapa waktu lalu. Termasuk dalam hal membuat awik-awik (peraturan) yang mengikat khusus bagi warga kampung Sade. Dengan begitu, diharapkan warga kampung Sade bisa lebih leluasa mempertahankan adat istiadatnya.

11 - 4

Masjid di Kampung Adat Sade (Suara NTB/kir)

Ke depan, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendukung keberadaan kampung adat Sade. Sebagai simbol dan identitas masyarakat suku sasak di Loteng. Sehingga ke depan, siapa saja yang ingin mengenal dan mengetahui seperti apa adat istiadat masyarakat suku sasak Loteng, terutama dalam hal bangunan bisa belajar di kampung adat Sade.

Dukungan fasilitas ke depan juga akan terus diupayakan oleh pemerintah daerah. Agar bagaimana kemudian kelestarian kampung adat Sade bisa terus bertahan dimasa-masa yang akan datang. “Sekecil apapun bentuk dukungan, akan kita berikan. Agar kampung adat Sade bisa tetap terjaga dan lestari,’’ pungkas Putria. (kir)