Kaldera Raksasa, Ikon Utama Gunung Tambora

Dompu (Suara NTB) – Kepala Sub Bagian Tata Usaha Taman Nasional Gunung Tambora (TNGT) Kabupaten Dompu, Deny Rahadi, S. Hut., M.Si., mengungkapkan kaldera raksasa yang dimiliki Tambora pascaletusan tahun 1815 lalu, merupakan ikon utama yang paling diminati wisatawan domestik maupun mancanegara. Hal ini pula yang mendasari perubahan fungsi dari yang sebelumnya cagar alam, swaka marga satwa, taman buru menjadi taman nasional.

“Sebab adanya potensi yang bisa dikembangkan dan memiliki ekosistem asli yaitu kawah kaldera raksasa dengan diameter 7 sampai 8 km2,” ungkapanya kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Jumat, 17 Maret 2017.

Iklan

Kaldera raksasa ini memiliki nilai jual tersendiri lantaran tidak semua taman nasional memilikinya, karenaya dalam hal pengembangan kaldera tambora sebagai destinasi wisata, tahun ini pihaknya fokus untuk mengembangkan wisata pendakian.

Kedepan lanjut Deny Rahadi, TNGT juga akan mengembangkan atraksi wisata di empat jalur utama pendakian, yakni jalur pendakian Piong, Doro Ncanga, Kawinda Toi dan Pancasila. Dari empat jalur tersebut dua jalur di antaranya dikonsep untuk wisatawan minat khusus murni petualangan, seperti di jalur pendakian Kawinda Toi dan Pancasila. Sementara untuk konsep pendakian happy funs dengan tidak mengurangi nilai adventure-nya akan dibuka di jalur Doro Ncanga dan Piong.

“Salah satunya dengan wisata berkuda itu. Jalur Piong ini memiliki karakteristik relatif datar, track medanya tidak terlalu berat dan bisa dijangkau dengan kendaraan roda empat. Pengunjung hanya memerlukan waktu dua sampai tiga untuk bisa menikmati kaldera Tambora,” jelasnya.

Pengembangan konsep pendakian happy funs ini sebut dia, semata-mata untuk mengakomodir keinginan wisatawan yang tidak mau menguras tenaga cukup banyak. Selain dua konsep ini juga akan ada pengembangan jalur pendakian berbasis masyarakat.

“Contoh yang di jalur Doro Ncanga nanti akan kita bentuk asosiasi usaha penyewaan mobil jeep, dibentuk kelompok. Kalau sekarang masih individu,” ujarnya.

Tingginya intensitas pendakian lantaran kemudahan akses ini tentunya rentan memicu persoalan baru, salah satu persoalan sampah sebagaimana yang terjadi di Gunung Rinjani. Tetapi untuk mengantisipasi hal tersebut kata Deny, pihaknya telah membuat program rutin bulanan yakni sapu bersih Tambora.

“Yang jelas ini akan menjadi agenda rutin, itu untuk clean up di jalur pendakian. Selain itu di pintu masuk kita sudah menetapkan SOP agar pengunjung membawa pulang sampah barang bawaan,” pungkasnya. (jun)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional