Kajian Operasional BRT Mandek di Tim Ahli

Mataram (Suara NTB) – Masyarakat Kota Mataram semakin lama menikmati layanan bus rapit transit (BRT) dikenal sebagai transportasi murah dan nyaman. Tim ahli dari Universitas Mataram yang ditunjuk oleh Dinas Perhubungan Kota Mataram belum menyerahkan hasil kajian.

Hasil kajian awalnya dijanjikan rampung Bulan April dan paling telat awal Mei. Nyatanya, hingga kini belum ada tanda – tanda tim ahli berkomunikasi dengan Dinas Perhubungan. Informasinya, akademisi Unram ini terkendala menginput data siswa dari masing – masing sekolah.

Iklan

Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram, Drs. H. Khalid mengaku, belum mendapatkan laporan terhadap hasil kajian dari tim akademisi (tim ahli, red). Rencana awal memang kajian itu akan selesai Bulan April dan paling telat awal Mei. Akan tetapi, tim ahli belum selesai menginput data dari sekolah.

“Begitu wartawan tanya soal itu, saya langsung kumpulkan semua kepala bidang. Informasi saya terima itu tim akademisi masih belum selesai masukan data dari sekolah,” kata Khalid, Senin, 22 Mei 2017.

Dishub tidak berani berkomentar mengenai kapan BRT bisa melayani masyarakat. Sesuai kesepakatan dengan Dishub NTB, Organda dan Damri harus menunggu kajian selesai.

Tim ahli kata Kepala Bidang Angkutan, Lalu Wirajaya, masih menginput data dari sekolah. Data itu nanti dikomparasikan dari hasil survei lalu dipetakan serta sebaran operasional angkot sebagai angkutan feeder. Konsultan diketahui kesulitan memperoleh data alamat siswa dari sekolah. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga memberikan satu persatu data dari masing – masing sekolah.

“Yang lama itu sebenarnya data dari sekolah. Ada satu itu yang dimasukan,” tambahnya.

Pihaknya pernah melakukan rapat tahap pertama dengan tim ahli. Itu membahas model rute dibuat untuk feeder. Rencananya, akan ada pertemuan kembali. Tetapi tidak dijelaskan oleh Wirajaya agenda yang dibahas.

“Kemungkinan finalisasi kajian atau meminta perbaikan,” ujarnya.

Terhadap desakan masyarakat yang ingin segera menikmati BRT, Wira belum berani memastikan. Ia hanya memberikan gambaran secara umum jika proses kajian dalam tahap finalisasi.

Secara institusi ia berharap, kajian bisa tuntas akhir Mei. Sehingga pemerintah bisa mengambil formulasi atau kebijakan secepatnya.

BRT ini merupakan bantuan dari Kementerian Perhubungan tahun 2015 lalu. Rencana awal akan dioperasikan awal April 2016 lalu. Tetapi terkendala karena tidak adanya kejelasan biaya operasional.

Kementerian Perhubungan memberikan signal operasional BRT di Kota Mataram dengan memberikan bantuan operasional selama tiga bulan.

Memasuki Bulan keempat Januari lalu, sopir angkot dan angdes melakukan aksi demonstrasi ke Kantor Dinas Perhubungan Kota Mataram. Mereka mendesak BRT berhenti beroperasi karena dinilai merugikan angkutan kecil.

Pascademo, operasional BRT hanya diperbolehkan melayani dua koridor saja. Namun hingga kini tak ada kejelasan bahkan PT. Damri mengandangkan bus tersebut di pangkalan mereka, karena mengaku rugi. (cem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here