Kafilah Al-Fatihah; Novel Karya Penulis Asal Ampenan

Mataram (suarantb.com) – Kafilah Al-Fatihah : Kisah Para Penjelajah Induk Al Qur’an itulah judul novel karya Jamaludin bin Abdullah yang memakai nama pena Je Abdullah. Pria asli Ampenan ini berhasil mewujudkan mimpinya untuk memperkenalkan Lombok pada pembaca seluruh Indonesia melalui tulisannya.

“Ingin memperkenalkan NTB di daerah rantauan melalui tulisan. Perkenalkan Lombok berdasarkan sesuatu yang saya miliki,” ujarnya.

Iklan

Ide awal dari novel Kafilah Al Fatihah ini diakui Je Abdullah adalah bagaimana menjelaskan Al-Qur’an, khususnya Surat Al-Fatihah secara lebih sederhana. Dengan latar cerita berlokasi di Lombok. Dimana Je mengeksplorasi daerah kelahirannya Ampenan, Lombok International Airport, wilayah Kelurahan Bintaro, Meninting dan lokasi wisata Loang Baloq.

Penjelasan kandungan Surat Al-Fatihah dalam novel ini secara sederhana disampaikan dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. “Bagaimana kandungan Surat Al-Fatihah itu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Itu yang ingin saya sampaikan lewat novel ini,” imbuhnya.

Tokoh di dalam novel Kafilah Al-Fatihah ini digambarkan Je sebagai kumpulan yang suka membaca tafsir Al-Qur’an. Namun, jenis tafsir yang dipilih oleh masing-masing tokoh berbeda. Mulai dari tafsir klasik, tafsir salaf, hingga tafsir tulisan berbahasa Indonesia maupun Inggris. Yang lebih hebat, Je juga mengambil ide tokoh dari tokoh lokal.

“Saya pinjam tokoh lokal, ada Mukaram, Biq Saeni. Semuanya masih hidup dan orangnya benar-benar ada. Tapi karakternya saya sesuaikan dengan kebutuhan novel,” katanya.

Disinggung mengenai alasannya menulis novel bertemakan Al-Qur’an, Je mengaku ingin membangun keberanian pembaca untuk membaca Al-Qur’an. Alasan mulia inilah yang meyakinkannya untuk berjuang menyelesaikan novelnya.

“Selama ini kan orang membaca hanya pada tahap sudah tamat. Tapi isinya nggak paham. Padahal Al-Qur’an harus dihidupkan, bukan hanya dibaca,” jelasnya mantap.

Sebagai penulis asli Lombok, Je berharap jejaknya bisa diikuti oleh penulis-penulis muda di Lombok. Ia berpesan agar terus menulis. Jangan pernah berhenti, walaupun ditolak berkali-kali. “Tuhan saja menyampaikan wahyuNya melalui tulisan. Apalagi kita, teruslah menulis,” pesannya

Penulis asal Ampenan ini telah lama hidup di tanah rantau. Hingga ia memutuskan untuk kembali ke Lombok dan sekarang tinggal menetap di Pejeruk. Saat ini kesibukannya mengurus madrasah yang telah lama ingin dibangun, yaitu Madrasah Sayang Ibu. Namun di sela-sela kesibukannya Je tidak lepas dari aktivitas menulis.

Novel Kafilah Al-Fatihah : Kisah Para Penjelajah Induk Al Qur’an ini diterbitkan penerbit nasional, Noura Books. Saat ini hanya tersedia penjualan melalui sistem daring atau online. Bahkan Je sendiri mengaku kesulitan membeli bukunya di toko buku karena kerap persediaan habis terjual. (ros)