Kadistanbun NTB: Pestisida dan Pupuk Organik, Solusi untuk Petani Bawang

Muhammad Riadi. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Muhammad Riadi, SP, M.Ec. Dev menyerukan pentingnya penggunaan pestisida dan pupuk organik sebagai solusi dalam menyikapi mahalnya harga pupuk kimia.

Seruan itu disampaikan Riadi terkait keluhan petani bawang merah menyangkut tingginya biaya tanam yang harus mereka tanggung. Biaya tanam yang tinggi ini tak diimbangi harga jual bawang yang menguntungkan. Akibatnya, petani pun merugi.

Iklan

Terkait anjloknya harga bawang produksi petani di Kabupaten Bima ini, jajaran Pemprov NTB telah berkoordinasi dengan Pemkab Bima.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M.Sc, bersama Dirjen Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kementrian Perdagangan RI Oke Nurwan, Direktur Bapokting Isy Karim, Kadis Perdagangan Provinsi NTB Drs H Fathurrahman, M.Si, Kadis Pertanian & Perkebunan NTB M. Riadi, SP, M.Ec.Dev. melakukan rapat koordinasi (Rakor) dengan Pemkab Bima di Kantor Bupati Bima, Senin, 22 November 2021.

Hadir dalam rakor tersebut, Wakil Bupati Bima, Sekda Bima, Kadis Pertanian Bima, Kadis Perindag Bima, Camat se-Kab Bima, Para Kepala Desa, perwakilan pengusaha dan petani, dll. Dalam Rakor tersebut Gubernur NTB, menyampaikan solusi kongkret dari hasil koordinasi dengan Mentei Perdagangan RI, yakni telah dibukakan peluang klaster pasar di tiga Propinsi sekaligus untuk menampung penjualan bawang merah Bima, meliputi Provinsi Papua, Papua Barat, dan Maluku.

“Selalu ada peluang baru dibalik kesusahan. Hari ini, ketika petani bawang merah di Bima susah karena harga jual yang rendah. Ternyata, setelah kami koordinasi dengan Pak Menteri Perdagangan, dan mengirim langsung Pak Dirjen ke sini. Akhirnya, kita justru temukan solusi peluang eksplore (pasar, red) baru. Bahwa ada kebutuhan bawang di Provinsi Maluku, Papua Barat dan Papua,” ujar pria yang akrab disapa Bang Zul ini.

Bukan hanya itu saja, dalam membantu petani dan pengusaha yang akan mengirim bawangnya, pihaknya pun menjanjikan bantuan subsidi biaya transportasi bawang merah ke provinsi tujuan. Termasuk telah melobi Menteri Perdagangan RI untuk turut membantu subsidi biaya transportasi.

“Pemprov NTB akan memberikan Subsidi biaya transportasi untuk pengusaha bawang Bima yang mengirim bawang ke Provinsi-Provinsi tersebut. Dan Pak Menteri pun telah setuju membantu subsidi biayanya. Dan semoga Pemkab Bima juga memberikan subsidi. Jadi pasar sudah ada, biaya transportasi dibantu. Ini merupakan cara baru, dan jangan ragu untuk memakai cara-cara baru,” imbuhnya.

Terobosan dengan membuka akses pasar bagi petani bawang merah ini bisa menjadi solusi di sisi hilir budidaya bawang. Namun, di sisi hulu, tak dapat dipungkiri bahwa kerugian petani bawang merah juga turut dipengaruhi biaya operasional yang tinggi. Hal itu karena tingginya penggunaan obat-obatan kimia oleh petani. Padahal, petani bisa menggunakan pertisida dan pupuk organik.

“Petani bawang di Bima sama seperti petani bawang di Sembalun. Biaya produksinya tinggi karena penggunaan obat-obatan dan pupuk kimia berlebihan. Petani cenderung mau proses cepat. Ndak mau yang organik karena prosesnya lama. Tapi akibatnya pembengkakan biaya produksi. Ini yang kami edukasi terus kepada petani,” imbuhnya.

Terhadap persoalan bawang merah yang diserukan petani ini, Riadi mengatakan, sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk dilakukan serapan. Namun lagi-lagi persoalannya, karena terjadi panen serempak di sentra-sentra penghasil bawang merah.

“Kementerian Pertanian juga menjembatani saya ke perusahaan swasta. Tapi setelah kami hubungi, perusahaan juga mengeluh karena sedang membanjirnya stok,” ujarnya.

Untuk itu, petani sementara ini disarankan melakukan tunda jual. Dengan pengeringan di para-para. Sembari menunggu harga bawang merah kembali normal.

Seperti diketahui, saat ini petani bawang merah, khususnya di Bima sedang kebingungan dengan hasil produksinya. Serapan pasar rendah, dan harga juga sangat rendah. Dianggap harga bawang merah tahun ini paling rendah dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Rendahnya harga bawang ini juga disuarakan melalui media sosial. Muhammad Riadi mengatakan, sudah juga merespon langsung keluhan yang disampaikan melalui salah satu akun di facebook yang harganya disebut turun sampai Rp8.000/Kg.

“Saya sudah minta petugas cek harga di pasar induk, dan kawan – kawan di Bima. Harga sudah bergerak naik, sampai belasan ribu perkilogram,” kata kepala dinas.

Riadi menyampaikan hasil pantauan timnya, terkait harga bawang merah per 6 November 2021 perkilogramnya. Di Kabupaten Dompu harga bawang merah Rp20.000 (pengecer), Rp16.000 (pengepul), Rp13.000 (petani). Di Kabupaten Lombok Timur harga bawang merah Rp23.000 (pengecer), Rp13.000 (pengepul), Rp16.000 (petani).

Di Bima Rp14.000 (pengecer), Rp13.000 (pengepul), Rp10.000 (petani). Di Lombok Utara Rp25.000 (pengecer), Rp22.000 (pengepul), Rp17.000 (petani). Di tingkat provinsi Rp16.000 (pengecer), Rp14.000 (grosir). Di Bima Rp14.000 (cross), Rp12.000 (sedang) dan Rp8.000 (kecil).

Menurut Riadi, turunnya harga bawang merah salah satunya dipengaruhi juga oleh panen bawang merah secara bersamaan di sentra-sentra penghasil bawang merah nasioal. Misalnya di Brebes Jawa Timur.

Di satu sisi, kerugian petani bawang merah turut dipengaruhi juga biaya operasional yang tinggi. Hal itu karena tingginya penggunaan obat-obatan kimia oleh petani. Padahal, petani bisa menggunakan persisida dan pupuk organik. (aan/bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional