Kadisbudpar Kota Mataram Imbau Penjual Tuak Jangan Terlalu Vulgar

Mataram (suarantb.com) – Mewujudkan destinasi wisata halal masih membutuhkan kesadaran masyarakat. Masyarakat harus membangun rasa tanggung jawab atas keunggulan pulaunya yang kini dinobatkan sebagai destinasi wisata halal. Bentuk tanggung jawab ini tidak hanya diekspresikan dengan rasa bangga dan promosi, namun juga ikut serta mewujudkan keamanan, kebersihan serta kehalalan wisata di Pulau Lombok.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Mataram, H. Abdul Latif Nadjib mengatakan untuk mewujudkan pelayanan pariwisata terbaik bagi wisatawan, membangun kesadaran masyarakat sangat penting diwujudkan. “Kalau memang kita mau memberikan pelayanan pariwisata terbaik, mohon kepada masyarakat untuk ikut bertanggung jawab,” harapnya, Rabu, 19 Oktober 2016.

Iklan

Banyak persoalan yang mencemari keberadaan pariwisata halal di Pulau Lombok ini. Seperti maraknya aksi begal di beberapa akses menuju tempat wisata, ekspos terang-terangan penjualan miras di pinggir jalan, aksi pencurian, hingga ke permasalahan sampah.

Latif mengatakan hal tersebut tidak bisa ditangani secara maksimal jika hanya mengandalkan pemerintah serta aparat penegak hukum.

“Masyarakat kita yang kebetulan mencari nafkah di bidang itu, ya jangan vulgar dong,” ujarnya mengomentari maraknya penjualan tuak yang ada di Kota Mataram.

Meskipun beberapa kali Pemkot Mataram melakukan penertiban, permasalahan tersebut belum juga bisa diatasi. Menurutnya, Pemkot Mataram tidak berhak melarang adanya penjualan tuak. Namun, para penjual harus memiliki kesadaran.

Demikian pula permasalahan kebersihan. Sampah-sampah yang diakibatkan oleh banyaknya PKL di sekitar tempat-tempat wisata harusnya menjadi tanggung jawab pedagang terkait. Kebersihan tidak hanya menjadi tanggung jawab pasukan kuning (petugas kebersihan) yang jumlahnya terbatas.

“Prinsipnya kita semua harus menyadari, tidak perlu lagi diperintah. Sebagai warga masyarakat harus memiliki kesadaran, dan itu tang harus kita dorong,” ujarnya. (rdi)