Kadin Sanggup Bangun 58.000 Unit Huntap di NTB

Kepala Dinas Perkim NTB, IGB. Sugihartha (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) NTB, Ir. IGB. Sugihartha, MT mengatakan, para pengusaha yang berada di bawah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mulai terlibat dalam percepatan pembangunan hunian tetap (huntap) untuk korban gempa. Selama dua bulan ke depan, para pengusaha sanggup membangun 58.000 unit rumah tahan gempa (RTG).

‘’Pendanaan (dana bantuan pembangunan huntap) sudah 72 persen ke masyarakat. Keterlibatan pengusaha secara massif, ini bisa mempercepat. Jadi, dalam dua bulan ke depan, kesiapan dari para pengusaha kita ini sekitar 58 ribu rumah bisa diselesaikan,’’ kata Sugihartha dikonfirmasi di Mataram, Kamis (31/1).

Iklan

Total rumah yang rusak akibat gempa beruntun beberapa waktu lalu sebanyak 216.519 unit. Dengan rincian rusak berat 75.138 unit, rusak sedang 33.075 unit dan rusak ringan 108.306 unit.

BNPB telah mentransfer dana bantuan sebesar Rp3,5 triliun lebih. Dari jumlah tersebut, BPBD kabupaten/kota terdampak bencana telah mentransfer dana bantuan pembangunan huntap ke rekening masyarakat sebesar Rp3,4 triliun lebih.

Sugihartha mengatakan kecepatan pengusaha untuk membangunan rumah tahan gempa tergantung dari pembayarannya. Ketika pembayaran atas pekerjaan yang dilakukan bisa cepat. Maka ia yakin pengusaha juga akan bergerak secara cepat.

‘’Tapi kalau nanti di dalam pembayaran itu menemui hambatan, mereka juga tak akan bekerja secara cepat,’’ katanya.

Keterlibatan pengusaha dalam rekonstruksi rumah korban gempa ini hanya untuk rumah yang rusak berat. Sedangkan untuk rumah rusak sedang dan ringan pelaksanaannya diharapkan dilakukan kelompok masyarakat (Pokmas) bersama masyarakat dengan didampingi fasilitator.

Mantan Kepala Biro Administrasi Pembangunan dan Layanan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah (AP dan LPBJP) Setda NTB ini menyebutkan, saat ini ada 11 model rumah tahan gempa yang dapat dipilih masyarakat. Berkaitan dengan keterlibatan pengusaha ini, Sugihartha mengatakan mereka dapat menyiapkan rumah tahan gempa yang akan dibangun. Kemudian pengusaha menyesuaikan model rumah yang dibangun sesuai minat masyarakat.

Memang masyarakat cenderung memilih Rika (Rumah Instan Kayu). Tapi kita bisa ketahui, model rumah lainnya seperti Risba (Rumah Instan Baja), banyak masyarakat tak tahu. Model lainnya ini yang kita informasikan ke masyarakat,’’ jelasnya.

Ditambahkan, upaya percepatan untuk pembangunan rumah tahan gempa terus dilakukan, salah satunya melibatkan pengusaha. Selain itu, menambah jumlah fasiliator untuk rumah rusak berat, sedang dan ringan.

‘’Namun tentunya, ketika kita berhitung dari sisi jumlah, yang ada di lapangan. Ini juga masih perlu ada penambahan-penambahan fasilitator. Rencananya sekitar 1.000 fasilitator dari TNI zeni konstruksi khususnya untuk pembangunan rumah yang  rusak berat,’’ tandasnya.

Rumah tahan gempa yang sudah selesai dibangun dan sedang dalam proses pembangunan berjumlah 5.413 unit. Jumlah masyarakat yang sudah memilih jenis rumah tahan gempa  sebanyak 21.558 unit. Dengan rincian, Risha sebanyak 4.378 unit atau 20,31 persen,   Rika sebanyak 8.732 unit atau 40,50 persen,  Riko sebanyak 7.969 unit atau 36,97 persen dan RCI sebanyak 64 unit atau 0,30 persen. Serta Risba sebanyak 415 unit atau 1,93 persen.

Jumlah Pokmas rumah rusak berat yang sudah terbentuk hingga saat ini 1.979 Pokmas. Pokmas rumah rusak berat yang sudah di-SK-kan bupati/Walikota sebanyak 1.802 Pokmas.

Sementara itu, rekening Pokmas rumah rusak berat  yang sudah terbentuk sejumlah 1.398 Pokmas. Rekening Pokmas  rumah rusak berat  yang sudah terisi sejumlah 540 Pokmas.

Rekening masyarakat yang sudah terisi  sejumlah 159.051 KK atau bertambah 3.403 di Sumbawa atau sebesar 74,81 persen  dari total rumah yang sudah ber-SK. Dengan rincian, rekening masyarakat rumah rusak berat  yang sudah terisi sejumlah 50.700 KK atau sebesar 68,43 persen  dari total rumah rusak berat  yang ter-SK.

Rekening masyarakat rumah rusak sedang  yang sudah terisi sejumlah 25.296 KK atau sebesar 78,15 persen dari total rumah rusak sedang  yang ter-SK. Selanjutnya, rekening masyarakat rumah rusak ringan  yang sudah terisi sejumlah 83.055 KK atau sebesar 78,26 persen  dari total rumah rusak ringan  yang ter-SK.

Rekening Masyarakat yang sudah dibagi  sejumlah 99.898 KK atau bertambah 5.924 KK di Lombok Barat  atau sebesar 46,99 persen  dari total rumah yang    sudah ber-SK. Dengan rincian, rekening masyarakat rumah rusak berat  yang sudah dibagi sejumlah 37.783 KK atau sebesar 50,99 persen  dari total rumah rusak berat  yang ter-SK.

Rekening masyarakat rumah rusak sedang  yang sudah dibagi sejumlah 12.818 KK atau sebesar 39,60 persen  dari total rumah rusak sedang  yang ter-SK. Rekening masyarakat rumah rusak ringan yang sudah dibagi sejumlah 49.297 KK. (nas)