Risa, Kampung Bawang dengan Potensi Melimpah

Area kampung bawang merah di Desa Risa yang menyimpan potensi bawang melimpah. (Suara NTB/Uki)

Bima (Suara NTB) – Desa Risa, Kecamatan Woha selama ini lebih dikenal sebagai Desa yang rawan terjadinya konflik atau perang antar kampung. Namun siapa sangka, desa ini menyimpan potensi berbagai sektor yang sangat melimpah. Mulai dari sektor pertanian, peternakan hingga pariwisata.

Sayangnya potensi sangat melimpah, yang diharapkan akan menjadi kantong-kantong Pendapatan Asli Desa (PADes) maupun PAD tersebut, belum dikelola maksimal ataupun dioptimalkan dengan baik.

Potensi sektor pertanian, warga setempat menggarap lahannya tidak mengenal batas musim. Entah musim hujan dan kemarau, mereka tetap menanam tanaman seperti bawang merah, padi, jagung, kedelai, kacang hijau hingga tomat.

Hasil-hasil pertanian itupun dijual secara langsung kepada pengepul ataupun ke tengkulak. Sehingga harganya gampang sekali dimonopoli, dengan alasan hasil produksi yang melimpah karena tengah masa panen.

Warga setempat, Idham, mengatakan hamparan areal pertanian di Desa Risa cukup luas. Bahkan terbesar di wilayah Kecamatan Woha. Area pertanian itu untuk menggarap atau menanam berbagai tanaman dan sayuran.  “Ada jagung, padi, kacang hijau, serta sayur-sayuran juga,” katanya kepada Suara NTB.

Selain itu lanjutnya, yang menjadi tanaman pertanian andalan warga setempat adalah bawang merah. Diakuinya tanaman bawang merah yang ditanam tidak mengenal batas musim. Baik kemarau maupun musim hujan. Bahkan saat ini Desa Risa dikenal kampung bawang.

“Saat musim kemarau sekarang saja warga tetap menanamnya. Dalam setahun bisa 3 sampai 4 kali tanam. Begitupun dengan jagung dan padi,” katanya.

Sementara dari sektor peternakkan juga tidak kalah. Bahkan hampir semua warga setempat memiliki hewan ternak seperti sapi dan kambing. Proses budidaya dan pengembangannyapun masih bersifaf tradisional.

Warga setempat yang memiliki hewan ternak pada musim hujan memilih untuk melepas ke gunung-gunung. Sementara pada musim kemarau hewan ternak diliarkan begitu saja, tanpa ada pengawasan.

Untuk potensi alam, Desa Risa memiliki Mbaju Kalate, air terjun yang berada di wilayah bagian barat Desa. Potensi tersebut sangat bagus untuk mengembangkan sektor pariwsata.

Namun sayangnya, potensi tersebut belum dikelola secara optimal. Akses jalan menuju destinasi wisata air terjun di Mbaju Kalate belum diperbaiki. Padahal memasuki musim hujan nanti banyak pengunjung dari luar Desa yang berdatangan.

Idham menambahkan dari potensi air terjun itu, para pemuda dan masyarakat setempat bisa mendapatkan penghasilan sampingan, disamping berternak dan bertani. Yakni menjadi tukang parkir ataupun membuka usaha makanan.

“Meskipun wisata musiman tapi lumayan omzetnya. Angkanya bisa sampai jutaan  rupiah perminggu. Itupun dari hasil parkir,” katanya.

Tidak hanya itu Ia menegaskan persoalan konflik yang melekat dan sering terjadi di Desa Risa lantaran hanya dipicu oleh kenalan remaja, dari sekolah hingga merambat ke kampung-kampung.

“Kalau soal lapangan kerja dan pengangguran bukan menjadi pemicu konflik. Karena di Desa Risa, hanya orang malas ke sawah dan ladang saja yang tidak ingin sejahtera ” pungkasnya. (uki)