Almarhumah Hj. Siti Maryam Dianugerahi Mahaputera Nararya

Hj. Siti Maryam M. Salahuddin, saat diwawancarai Suara NTB tahun 2017 lalu. Tokoh Bima yang berpulang pada Sabtu, 18 Maret 2017 ini dianugerahi gelar tanda kehormatan Mahaputera Nararya oleh Presiden Joko Widodo. (Suara NTB/Dok)

Bima (Suara NTB) – Presiden Ir.H. Joko Widodo memberikan gelar tanda kehormatan kepada 29 tokoh yang dianggap berjasa di Indonesia. Salah seorang diantaranya anak kedua dari Sultan Bima terakhir, M. Salahuddin, almarhumah Dr. Hj. Siti Maryam M. Salahuddin, SH.

Informasi yang dihimpun Suara NTB, Siti Maryam mendapat gelar kehormatan Mahaputera Nararya, sebagai Ilmuwan Kebudayaan Daerah. Pemberian tanda kehormatan berlangsung di Istana Negara, Kamis, 15 Agustus 2019.

Penganugerahan gelar tersebut tercatat dalam Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 72 tahun 2019 tentang Penganugerahan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bima, Drs. Sirajuddin MM, kepada Suara NTB, Kamis, 15 Agustus 2019 mengaku belum mendapatkan informasi dari Pemerintah Pusat terkait penghargaan kepada Siti Maryam.

“Tapi hari ini memang di Istana Kepresidenan ada penganugerahan gelar kepada para tokoh. Belum tahu apakah Ibu Siti Maryam juga mendapat gelar ini, nanti kita cek dulu,” ujarnya singkat.

Baca juga:  Baznas Award 2019, NTB Raih Tiga Penghargaan

Dalam catatan Suara NTB, Siti Maryam M. Salahuddin yang dikenal dan disebut warga Bima Ruma Ina Ka’u Mari” ini lahir pada 13 Juni 1927 dan wafat pada Sabtu, 18 Maret 2017. Ia meninggal dunia dalam usia 89 tahun 10 bulan.

Semasa hidupnya, ia menjaga museum Samparaja yang diresmikan oleh Menteri Kebudayaan pada tahun 1995 silam.  Museum itu tempat menyimpan beberapa koleksi seperti Manuskrip Kesultanan, Meriam tua Kolonial Belanda, sampai perabotan-perabotan zaman kesultanan dulu.

Peneliti, arkeolog, budayawan, sejarawan hingga mahasiswa lokal, dalam negeri dan mancanegara pernah mengunjungi Museum yang terletak di jalan Gajah Mada Karara Kota Bima itu yang juga merupakan kediaman pribadinya.

Tamu yang yang berkunjung juga akan disuguhi sebuah buku besar atau naskah bersampul kulit yang lusuh, yang dikenal Bo Sangaji Kai. Dalam naskah tersebut sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, yang asli bahasa adalah Arab-Melayu.

Baca juga:  Baznas Award 2019, NTB Raih Tiga Penghargaan

Beberapa halaman nampak ada bagian yang pudar dan tidak terbaca, Dalam naskah tersebut, berupa catatan atau tulisan Sultan Bima dulu, saat ini satu-satunya yang bisa membaca dan menerjemahkan naskah itu hanya Maryam yang dipelajarinya selama lima tahun.

Sedangkan masalah tulisan Maryam pernah menerbitkan buku tentang kebudayaan Bima seperti Pemerintahan Adat Kesultanan, (1992), dan Katalog naskah Bima, (2007), yang hingga kini sebagai referensi mahasiswa dan peneliti dalam menguak sejarah Kesultanan Bima.

Terakhir buku yang berhasil diterbitkan yakni buku berjudul Naskah Hukum Adat Tanah Bima, dalam perspektif hukum Islam, yang diterbitkan pada tahun 2015 lalu. (uki)