Warga Berang, Lahan Warisan Diserobot untuk Vila

Lahan di kawasan So Sambu Dusun Sanolo Desa Maria Kecamatan Wawo yang sudah digali untuk dijadikan vila kolam renang dan ikan, Selasa (30/7). (Suara NTB/Uki)

Bima (Suara NTB) – Sejumlah warga berang lahan warisan lelulur yang berlokasi di So Sambu Dusun Sanolo Desa Maria Kecamatan Wawo diduga diserobot untuk pembangunan vila, kolam ikan dan renang.

Lahan seluas 1 hektar yang dijadikan area perkebunan dan ditanami pohon durian, kelapa, mangga dan pohon lainnya itu juga dimanfaatkan sebagai sawah untuk menanam padi tiga kali dalam setahun.

Salaseorang warga, Hamisa mengaku keberatan dengan penyerobotan lahan itu. Pasalnya lahan tersebut merupakan warisan kakeknya yang sudah lama meninggal dunia. “Lahan ini sudah dikelola selama puluhan tahun oleh keluarga kami. Tapi kini tiba-tiba diserobot untuk dibangun vila, kolam ikan dan kolam renang,” katanya, Selasa, 30 Juli 2019.

Sebelum adanya aktivitas penggalian lahan, dirinya sudah mengingatkan dan menegur pihak pekerja agar menghentikan pengerjaannya. Namun teguran itu justru tidak diindahkan. “Bahkan penggalian untuk pembuatan kolam ikan dan renang ini saat kami tidak ada,” katanya.

Hamisa menegaskan akan tetap mempertahankan lahan tersebut. Ia tidak ingin lahan yang dikelola puluhan tahun secara turun temurun oleh keluarga tiba-tiba diklaim pihak tertentu. “Penggunan lahan ini sama sekali tidak kami ketahui. Tiba-tiba ada penggalian lahan seperti ini,” katanya.

Kerabat Hamisa, Amir mengatakan aktvitas penggalian lahan untuk pembuatan kolam ikan dan renang dilakukan pada Sabtu akhir kemarin. Aktivitas tersebut juga tanpa ada koordinasi dengan pemiliknya. “Kita tidak tahu, tiba-tiba langsung digali,” katanya.

Amir menambahkan, akibat dari penyerobotan lahan dan direncanakan untuk pembangunan sebuah vila tersebut, warga yang memiliki lahan tidak bisa lagi menanam padi. “Kami juga bingung mau mengadukan hal ini ke siapa,” katanya.

Sementara Pjs. Kepala Desa Maria, Tajunisa mengaku tidak mengetahui jelas persoalan itu lantaran baru tiga bulan menjabat sebagai Kepala Desa. Namun berdasarkan koordinasi dengan mantan Kades, aktivitas tersebut wewenang KPH.

Selain itu, berdasarkan informasi yang diketahuinya, aktivitas penggalian lahan tersebut merupakan program pemanfaatan lahan hutan. Namun sampai sekarang, Ia  belum melihat izinnya, termasuk kelompok yang mengelolanya.

“Kami sama sekali tidak tahu, karena ini ranahnya KPH. Tapi kami berharap aktivitasnya tidak dilakukan karena lahan ini adalah tutupan negara,” pungkasnya. (uki)