Sensasi Wisata Alternatif Jalur ‘’Offroad’’ Gunung Tambora

Seorang rider tengah melintasi jalur offroad di Gunung Tambora dengan kendaran bermotor. (Suara NTB/ars)

Bima (Suara NTB) – Gunung Tambora dengan segala potensinya layak menyandang status geopark dunia. Kaldera pada ketinggian  2.850 Mdpl jadi favorit bagi wisatawan melalui tiga jalur yang dibuka. Salah satu alternatif adalah jalur offroad Desa Piong, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima menyajikan sensasi bagi wisatawan yang gemar trial adventure.

Tambora diklaim sebagai satu satunya gunung di Indonesia yang membuka dua akses sekaligus menuju kawah. Selain dua jalur di Pancasila Kabupaten Dompu dan Kawinda Toi Kabupaten Bima yang sudah biasa dilalui pendaki setapak, Taman Nasional setempat membuka khusus akses untuk wisatawan jalur offroad melalui Desa Piong.

Menuju desa ini, butuh waktu sekitar dua jam perjalanan darat dari Kota Dompu hingga ke gapura menuju jalur offroad Desa Piong. Jalur ini memang dibuka khusus taman nasional untuk kendaraan ground clereance tinggi seperti motor trail dan mobil dengan system penggerak  Four Wheel Drive 4×4.  Jarak dari pos 1 menuju pos V mencapai 21 Km, dengan rata rata waktu tempuh hingga empat jam, dilanjutkan jalan kaki sekitar 1,5 jam menanjak menuju kawah.

Suara NTB yang menjajal jalur ini pada Kamis (6/5) lalu, merasakan sensasi dan tantangan jauh berbeda dengan jalur trabas pada umumnya. Mulai start dari pintu masuk pukul 08.30 Wita, setelah melakukan registrasi di Resort Taman Nasional Gunung Tambora (TNGT) dan membayar tarif Rp 5.000 per sepeda motor.  Sayangnya sebelum tiba di pos I, harus terganggu dengan aktivitas galian C yang membentuk kubangan, memotong jalur terabas. Akibatnya, tidak sedikit trabaser yang salah memilih jalur dan tersesat. Ini juga dialami Suara NTB dan rider lain saat itu.

Sensasi jungle tracking Tambora memang menganggumkan. Mulai menanjak, vegetasi berupa rumput hijau, tumbuhan liar, ilalang, jadi pemandangan menyejukkan. Sesekali melintas melalui hutan hutan kecil, menyusuri lembah sungai mati (tak berair). Sesekali koloni ternak  sapi milik warga melintas. Maklum, kaki Tambora surga bagi peternak dengan ratusan ribu hektar padang rumput subur.

Baca juga:  NTB Care tampung 18 Pengaduan, Infrastruktur dan Fasum Objek Wisata Dikeluhkan

Pada ketinggian ketinggian 200 sampai 700 meter menuju pos 2 dan pos 3,  tipe vegetasi adalah hutan musim hijau yang didominasi oleh tumbuhan Walikukun, Rajumas, Rida/Pulai , Monggo/Jambu Hutan. Termasuk jenis pohon yang  sulit ditemukan di tempat lain, seperti Bayur, Wangkal  dan Linggua.

Tipe vegetasi lain yang bisa ditemukan wisatawan adalah hutan sekunder yang didominasi jenis-jenis semak dan perdu.

Setelah menempuh sekitar 1 jam sampai pos 3, Taman Nasional sudah menyediakan spot foto yang dibangun tidak jauh dari gardu. Banner dengan tulisan “The Sound of Caldera” dengan tinggi sekitar tiga meter, menjadi menarik untuk objek foto dengan latar puncak gunung yang erupsi April 1815 tersebut.

Semakin menantang ketika menuju pos 4.  Selain jalur tanah, sesekali menemukan jalur dengan kontur menanjak. Tipe permukaan jalan jenis tanah berpasir dan berbatu, menjadi kesulitan tersendiri. Wajar kemudian hanya direkomendasikan motor jenis KLX 150 CC atau pun jenis trail  250 CC untuk menaklukkan jalur ekstrem.

Sampai pada ketinggian di atas 900 meter di atas permukaan laut tipe vegetasinya semakin menakjubkan. Hamparan savana dengan tegakan Cemara Gunung  dan bunga Edelweis (Anaphalis javanica) yang sesekali dapat dilihat ketika menuju pos 4.

Sedangkan pada ketinggian di atas 1.200 meter di atas permukaan laut merupakan vegetasi savana yang ditumbuhi oleh jenis rumput alang-alang,  rumput gelagah, lantana hingga kirinyuh. Suasana ini bisa didapati dari pos 4 menuju pos 5 yang merupakan pemberhentian terakhir kendaraan.

Tidak saja vegetasi, jika beruntung wisatawan akan dapat melihat fauna yang didominasi oleh jenis-jenis burung  yang dilindungi  seperti Kakatua Kecil Jambul Kuning, Nuri Kepala Merah,  Kirik-kirik Australia dan   Ayam Hutan Hijau. Banyak lagi fauna lain.  Selain itu juga ada jenis Rusa Timor, Kera abu-abu, Babi Hutan dan Landak.

Kurang Promosi

Jalur Piong dikhususkan untuk pendakian menggunakan kendaraan offroad, melewati lima pos sebelum sampai puncak. Inilah potensi besar itu, tapi belum diimbangi dengan ramainya kunjungan. Hanya hari hari tertentu kendaraan offroad masuk melalui jalur taman nasional.

Baca juga:  Festival Gili Menggawe, Ikhtiar Masyarakat Bangkitkan Pariwisata Tiga Gili

Pengakuan warga, khususnya kelompok pemuda yang peduli dengan wisata Gunung Tambora di Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima,  blank spot masih dirasakan. Kehilangan signal telepon seluler jadi pelengkap masalah terbatasnya akses komunikasi dan upaya promosi. Setidaknya itu dirasakan warga Desa Piong dan Desa Oi Saro yang terletak di kaki Gunung Tambora.

Keluhan itu dilontarkan komunitas pecinta alam, Porter, guide dan para Trekking Organizer (TO)  di sana.

“Susah mau posting apa apa. Pemandangan bagus,  jalur trekking, ndak bisa upload. Di sini masih susah sekali sinyal,” keluh Erfan Wahyudin kepada Suara NTB ditemui di Desa Oi Saro.

Pemilik komunitas wisata desa Moti La Halo ini punya keinginan besar mempromosikan Gunung Tambora, khususnya jalur offroad di pintu masuk Piong menuju kawah. “Mau bikin website harus kuat sinyal internet. Tapi itu masalahnya. Sinyal untuk SMS dan telepon saja masih susah, apalagi untuk internetan,’’ sebutnya.

Kepala Balai TN Tambora, Murlan Dameria Pane dihubungi terpisah, kepada Suara NTB  mengakui beberapa kekurangan harus dilakukan perbaikan. Dipastikan, jalur jalur yang membahayakan akan ditata.

‘’Jalur offroad ini memang kita akan lakukan penataan. Penataan tanpa harus menghilangkan kesan alaminya. Kita tidak menata dengan menggunakan pengerasan pakai semen. Kami sangat hindari,” jelasnya.

Soal promosi, juga diakuinya belum maksimal. Padahal soal keunggulan vegetasi dan fauna, jadi jualan untuk wisata alternatif jalur offroad. Masalah keterbatasan akses internet dan sinyal juga jadi masalah yang akan dikoordinasikan dengan Dinas Kominfotik Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu. Pengunjung diharapkan dapat langsung memposting keindahan keindahan yang dijumpai sebagai sarana promosi langsung.

Tren kunjungan ke Taman nasional melalui tiga jalur itu, menunukkan peningkatan, sejak 2015 – 2018, baik untuk wisatawan mancanegara maupun domestik. Jumlah pengunjung tahun 2015  mencapai 220 orang, tahun 2016 naik menjadi 1,303 orang, kemudian tahun 2017 signifikan mencapai 2,105 orang. Terbaru, tahun 2018 dua kali lipat 4,576. (ars)